Papua: Seks, Kondom dan HIV

Suasana di dalam klinik milik Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di lokalisasi praktik prostitusi, Tanjung Elmo, Jayapura, Papua, yang terdiri atas tiga bilik itu tampak hiruk-pikuk sejak pukul empat sore. Di depan ruang konseling, beberapa perempuan duduk antre di atas bangku kayu.

Di sebelah bilik sempit itu, petugas kesehatan memeriksa kondisi kesehatan para pekerja seks di kawasan itu, terutama terkait dengan penyakit infeksi menular seksual (IMS). Pemeriksaan kesehatan para pekerja seks komersial (PMS) di kompleks lokalisasi itu rutin dilakukan sejak beberapa tahun silam. Hal ini untuk mengantisipasi penyebaran penyakit IMS.

Apalagi belakangan ini angka kasus HIV/AIDS di Tanah Papua meningkat tajam termasuk di kalangan beresiko seperti kelompok pekerja seks. Menurut catatan PKBI setempat, 10,9 persen dari 290 pekerja seks komersial di tempat itu positif terinfeksi HIV. Selain itu, 80 persen perempuan yang ada di 24 wisma dalam kompleks itu juga terinfeksi penyakit infeksi menular lainnya.

Mereka umumnya warga perantauan, terutama dari Pulau Jawa dan berusia mulai belasan hingga lebih dari 40 tahun. Selain pemeriksaan kesehatan, di klinik itu para PSK diberi penyuluhan tentang kesehatan reproduksi, terutama pentingnya penggunaan kondom saat berhubungan intim agar tidak terjangkit penyakit menular seksual dan HIV maupun sebaliknya, menulari berbagai penyakit IMS dan HIV kepada pasangan atau pengguna jasa mereka.