1.900 PSK di Bali Positif HIV

TEMPO Interaktif, Denpasar:Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Bali mengungkapkan sebanyak 1.900 dari 3.000 pekerja seks komersial (PSK) di Bali dinyatakan positif HIV. Menurut Koordinator Pokja Pengobatan, Perawatan dan Dukungan KPAD Bali Tuty Parwarti, yang ditemui Selasa (29/6) di Kuta, selama 2004 ini para PSK itu melayani pelanggan sebanyak 90 ribu orang.

KPAD memperkirakan jumlah populasi positif HIV di Bali dalam lima tahun ke depan akan bertambah menjadi 3.000 orang. Dari jumlah itu, tambah Tuty, 50 persen di antaranya diperkirakan mengidap AIDS, sehingga pengidap AIDS di Bali sampai 2009 akan berjumlah 1.500 orang.

“Jika setengah dari mereka, atau sebanyak 750 orang, berobat ke rumah sakit, maka fasilitas rumah sakit di Bali tidak akan dapat menampung mereka. Di Rumah Sakit Sanglah saja, hanya tersedia 800 tempat tidur. Itupun belum terhitung untuk pelayanan pasien penyakit lain,” ujar Tuty.

Tuty mengatakan, wanita ternyata lebih rentan 2,5 kali terkena penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, dibandingkan laki-laki. Persoalan itu diperparah oleh rendahnya kesadaran dari PSK dalam penggunaan kondom. “Sebanyak 80 sampai 90 persen inveksi kelamin pada perempuan muncul tanpa gejala,” ungkap dokter senior di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar ini.

Selain itu, tambah Tuty, dari hasil penelitian KPAD, hanya 10 persen PSK yang selalu menggunakan kondom saat melayani pelanggannya, dan 30 persen lainnya kadang-kadang saja memakai kondom. “Rendahnya kesadaran itu sebenarnya lebih karena para pelanggan mereka yang enggan menggunakan kondom,” sambungnya.

KPAD Bali juga mengungkapkan bahwa sampai 10 Maret pengidap HIV berdasarkan kelompok risiko lewat hubungan heterosex, perempuan justru lebih banyak dibanding laki-laki. Dari kasus ini ditemukan sebanyak 42 yang positif HIV. Padahal laki-laki hanya 24 orang. “Meski secara umum pengidap HIV/AIDS di Bali masih didominasi laki-laki, namun jika laki-laki itu punya pasangan atau istri, maka otomatis perempuan juga kena,” katanya.

Dia mencontohkan kasus HIV/AIDS yang disebabkan penggunakaan jarum suntik narkoba atau injecting drug users (IDU) sampai Maret 2004 sebanyak 215 laki-laki dan hanya 19 orang perempuan. “Jika si laki-laki ini memiliki pasangan perempuan lebih dari satu, maka jumlah perempuan ODHA-pun akan berlipat ganda. Artinya masyarakat juga harus menyadari bahwa penyebaran penyakit ini tidak melulu dari perempuan,” sambungnya.

Secara nasional, kata Tuty, rasio ODHA perempuan dengan laki-laki dalam delapan tahun terakhir terus meningkat. Tahun 1995 rasionya 0,36, artinya jika ada 100 orang ODHA laki-laki maka terdapat 36 orang ODHA perempuan. Tiga tahun kemudian rasio tersebut meningkat menjadi 0,52, dan pada 2003 meningkat lagi menjadi 0,54.

Raden Rachmadi – Tempo News