Indonesiana – Beli Kondom di ATM

Anda ingin membeli kondom? Di kota-kota besar dan kecil, barang itu ada di hampir semua apotek. Tapi, Anda mungkin risi membelinya, apalagi kalau pelayannya wanita. Lebih risi lagi kalau mau pilih-pilih.

Di Papua, daerah yang selama ini selalu dikategorikan tertinggal dibandingkan dengan daerah lain, penjualan kondom sudah dilakukan melalui sebuah mesin yang mirip anjungan tunai mandiri (ATM). Dengan hanya memasukkan tiga koin Rp 500 dan memencet salah satu tombol, satu kotak kondom merek Artika pun akan keluar. Aroma kondom juga beragam, ada vanilla, strawberry, cokelat, jeruk, dan durian.

Memang, “ATM kondom” belum begitu banyak. Salah satu yang sudah beroperasi sejak akhir April lalu adalah di lokalisasi Tanjung Elmo, Sentani. Menurut pejabat Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hardiyanto, pemasangan ATM kondom seperti itu memang diprioritaskan di lokalisasi pelacuran karena menjadi tempat suburnya penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.

Proyek besar ini adalah program kerja sama BKKBN Pusat, BKKBN Papua, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, untuk menekan tingginya jumlah kasus HIV/AIDS di Papua. Menurut Ketua Kelompok Kerja Komunikasi Informasi dan Edukasi Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Provinsi Papua, Agus Fauzi, berdasarkan data sampai 31 Maret 2005, kasus HIV/AIDS di daerah ini sebanyak 1.874. Itu yang dapat dideteksi. “Kemungkinan yang tak terdeteksi jauh lebih besar,” katanya.

Rencananya, akan ada tujuh ATM kondom yang tersebar di seluruh Papua. Dua di Kabupaten Mimika, dan satu masing-masing di Kabupaten Jayapura, Sorong, Biak Numfor, Merauke, dan Manokwari. “Ke depan, kita berharap ATM kondom serupa juga akan dipasang di tempat-tempat umum atau perkantoran,” kata Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat, Siswanto A. Wilopo. Tidak disebutkan apakah di kantor Dharma Wanita nantinya juga tersedia ATM kondom ini.

Adakah yang mengajukan protes terhadap modernisasi di dunia esek-esek ini? Tak seorang pun. Malah yang bangga banyak. Misalnya Rico, seorang sopir angkutan umum yang jadi pelanggan di lokalisasi Tanjung Elmo Sentani. Selama ini dia jarang “main” menggunakan kondom. Alasannya, kios yang menjual kondom jauh. Lagi pula, kata Rico, dia malu membeli kondom di tempat-tempat umum, nanti dikira suka main perempuan—padahal memang ya.

Para pekerja seks komersial—di masa lalu, ketika moral bangsa agak baik, mereka ini disebut sundal atau lonte untuk memberi kesan negatif—tak kalah girangnya. Kini mereka tak perlu repot mendapatkan kondom untuk pelanggannya. Soal merek, apalagi rasanya, juga tak dipermasalahkan. Kapan ATM kondom ini ada di mal-mal di Jakarta?

Abdul Manan, Lita Oetomo