Seks, Kondom, dan HIV

Matahari sudah condong ke barat. Sinar jingganya menerobos masuk melalui jendela ke dalam sebuah bangunan sederhana di salah satu sudut di lokalisasi praktik prostitusi di Tanjung Elmo, Jayapura, Papua.

Di depan pintu masuk bangunan itu, sejumlah perempuan tampak duduk bergerombol sambil bercengkerama dengan dandanan seadanya. Di antara mereka mengenakan daster, sandal jepit, dan rambut diikat. Wajah mereka hanya disaput bedak tipis dan gincu warna merah.

Suasana di dalam klinik milik Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang terdiri atas tiga bilik itu tampak hiruk-pikuk sejak pukul empat sore. Di depan ruang konseling, beberapa perempuan duduk antre di atas bangku kayu. Di sebelah bilik sempit itu, petugas kesehatan memeriksa kondisi kesehatan para pekerja seks di kawasan itu, terutama terkait dengan penyakit infeksi menular seksual (IMS).

Pemeriksaan kesehatan para pekerja seks komersial (PSK) di kompleks lokalisasi itu rutin dilakukan sejak beberapa tahun silam. Hal ini untuk mengantisipasi penyebaran penyakit IMS. Apalagi belakangan ini angka kasus HIV/AIDS di Tanah Papua kian meningkat tajam, termasuk di kalangan berisiko, seperti kelompok pekerja seks.

Semula, penyuluhan kesehatan di Tanjung Elmo kurang mendapat sambutan dari para penghuni lokalisasi. Klinik yang dikelola PKBI itu pun sepi pengunjung. Dengan melibatkan aparat dan tokoh masyarakat setempat, upaya penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan di kawasan ini mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Jumlah PSK yang memeriksakan kesehatan terus bertambah.

Menurut catatan PKBI setempat, 10,9 persen dari 290 pekerja seks komersial di tempat itu positif terinfeksi HIV. Selain itu, 80 persen perempuan yang ada di 24 wisma dalam kompleks itu juga terinfeksi penyakit infeksi menular seksual lainnya. Mereka umumnya warga perantauan, terutama dari Pulau Jawa, dan berusia mulai belasan hingga lebih dari 40 tahun.

Meri (20-an, bukan nama sebenarnya), asal Blitar, Jawa Timur, menuturkan, setiap pekerja seks di kawasan itu diwajibkan memeriksakan kesehatan minimal sekali setiap pekan di klinik tersebut. “Kami bergiliran periksa kesehatan ke sini, takut kalau sampai kena penyakit,” ujar perempuan berkulit kuning langsat yang telah menghuni kawasan itu sejak empat tahun silam.

Selain pemeriksaan kesehatan, di klinik itu para PSK diberi penyuluhan tentang kesehatan reproduksi, terutama pentingnya penggunaan kondom saat berhubungan intim agar tidak terjangkit penyakit menular seksual dan HIV maupun sebaliknya, menulari berbagai penyakit IMS dan HIV kepada pasangan atau pengguna jasa mereka. “Di sini ada aturan, setiap PSK wajib menggunakan kondom,” kata dokter di klinik PKBI itu.

Meski awalnya penggunaan kondom di lokalisasi dipaksakan oleh aparat berwenang, kini sebagian pekerja seks makin sadar untuk menerapkan berhubungan intim yang aman. Mereka pun berani mengambil sikap tegas dengan menolak pengguna jasa yang tidak mau pakai kondom. “Kalau mereka memaksa tidak memakai kondom, ya, lebih baik ditolak saja,” ujar Meri.

Namun, sejumlah pekerja seks mengaku kadang terpaksa melayani pengguna jasa yang bersikeras tidak mau memakai kondom dengan alasan mengurangi kenyamanan. “Tidak tiap hari ada banyak tamu yang datang. Kalau pas sepi, ya terpaksa mau melayani mereka yang tidak mau pakai kondom. Saya kan harus menanggung biaya hidup anak-anak saya di kampung,” ujar Suti (40-an), PSK asal Jawa Tengah.

Rendahnya kesadaran para pengguna jasa seks komersial yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat di Papua dalam pemakaian kondom menjadi salah satu pemicu penularan penyakit IMS dan HIV. Padahal, di kompleks lokalisasi yang terletak di pesisir itu telah disediakan ATM kondom yang dibandrol dengan harga relatif murah untuk memudahkan akses memperoleh kondom.

Menurut Ketua Laboratorium Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jack Morin, sejauh ini ada beberapa kategori pelacuran di Papua. Di antaranya jenis pekerja seks di lokalisasi, bar, panti pijat, dan hotel yang kebanyakan dilakukan oleh orang non-Papua.

“Menurut hasil survei, lelaki Papua lebih banyak melakukan seks imbalan dibandingkan dengan yang non-Papua. Ada beberapa pandangan tentang hubungan seks masyarakat Papua, yakni kenikmatan, prokreasi atau peningkatan hubungan kerabat, tenaga kerja, dan penerus keturunan,” papar Jack.

Hubungan seks juga dipandang sebagai tersembunyi, di dalam dan luar rumah, ekspresi kejantanan, aspek psikologis yakni lemah lembut, dan aspek religius yaitu dilakukan dengan kesadaran moral baik.

Permudah penularan HIV

Hasil Surveilans Terpadu HIV-Perilaku Tahun 2006 menunjukkan bahwa pemakaian kondom dalam hubungan seks yang berisiko ternyata sangat rendah. Data penggunaannya— tanpa membedakan jenis hubungan seks—menunjukkan, hanya 2,8 persen penduduk Papua yang menggunakan kondom.

Di antara penduduk yang berhubungan seks dengan memberi imbalan, sebesar 14,1 persen menggunakan kondom. Penggunaan kondom pada laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan seks penduduk perempuan.

Selain itu, kondom sulit diperoleh di pegunungan. Di kawasan pesisir yang mudah dijangkau, penduduk Papua yang tahu tempat mendapatkan kondom mencapai 60 persen.

Sayangnya, upaya pencegahan ini belum menjangkau penduduk dengan tingkat pendidikan rendah. “Kondom tidak mudah diperoleh di Papua, terutama di pedalaman dan pegunungan yang jauh dari tempat layanan kesehatan,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Nyoman Kandun. (Evy)