Di Bawah Lindungan Kondom

KondomKondomTEMPO Interaktif, Jakarta: Rasa miris masih tersisa di benak dokter cantik, Lula Kamal. Beberapa waktu lalu, di sebuah pusat belanja di Jakarta, Lula pernah dicerca dua orang ibu. Masalahnya, ia dikenal sebagai aktivis yang mengkampanyekan pemakaian kondom. “Mereka menyesalkan saya yang katanya pintar dan cantik justru menyarankan perbuatan zina,” kata Lula seusai konferensi tentang kondom di Jakarta, Senin lalu.

Pemahaman masyarakat terhadap kondom seperti itu terjadi seiring dengan merebaknya penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Diketahui, epidemi AIDS di Indonesia tercepat di Asia. Menurut data Departemen Kesehatan, hingga akhir September tahun ini sebanyak 21.151 jiwa di negeri ini telah terinfeksi HIV, 15.136 jiwa dalam fase AIDS. Sebesar 54,3 persen di antaranya berusia 15 sampai 29 tahun.

Sebagai alat kontrasepsi dan pencegah infeksi, kondom ibarat entitas yang fungsional, tapi penuh dengan asumsi miring. Reputasinya telanjur basah melekat pada penganut seks bebas dan pendukung praktek prostitusi. Bahkan, sebagian kalangan menuding kondom memberi rasa aman bagi lelaki yang suka “jajan”. Sementara dari aspek sosial, karet lateks itu belum seperti helm motor yang sudah dipayungi hukum bila tidak memakainya.

Kondom memang tidak bisa bisa menjamin perlindungan 100 persen, seperti cita-cita dokter Italia, Gabriel Fallopius, si pembuat kondom pada 1564. Tapi benda itu alat paling efektif menangkal HIV. Menurut Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Dr Sugiri Syarief, terus meningkatnya jumlah penderita HIV berbanding lurus pada rendahnya kesadaran pemakai kondom. “Masyarakat sudah harus menggeser mitos dan stigma sempit itu,” ujarnya.

Pendapat senada diungkapkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Dr Nafsiah Mboi. Menurut dia, kini sudah tidak ada waktu lagi berdebat mengenai kondom. Angka 50,2 persen penularan HIV melalui hubungan seksual merepresentasikan kenyataan miris bangsa ini. Bahkan, katanya mengungkapkan, di Papua, penularan sejenis telah mencapai 94 persen. “There is no silver bullet for HIV/AIDS case,” Nafsiah menegaskan.

Jika dibiarkan, Indonesia akan bernasib sama dengan Afrika. Diperkirakan bakal ada 1-5 juta orang terinfeksi HIV dalam dua tahun mendatang (2010).

Menurut dia, dari penyebaran 100 juta kondom di Indonesia, sekitar 32.100 kasus HIV dan 100 ribu kasus penyakit kelamin dapat dicegah. Studi laboratorium menunjukkan kondom lateks sangat kedap untuk mencegah masuknya HIV, hepatitis, dan herpes.

Karena itu, Nafsiah menggalakkan gerakan nasional kondom di beberapa daerah. Di Malang, katanya, ada kesepakatan antara bupati, mucikari, “mami”, tukang ojek, bahkan sopir taksi perihal kesadaran HIV/AIDS. Kesepakatan itu membuat angka penyakit kelamin menurun. Sedangkan di Jawa Timur keseluruhan, sejak 2005, lewat Peraturan Daerah Nomor 5, mewajibkan kondom 100 Persen kepada pekerja seks komersial. Penyebaran kondom juga telah memasuki lembaga pemasyarakatan.

Lebih jauh, gaya hidup seks bebas di kalangan siswa menengah pertama dan atas memasuki tahap mengkhawatirkan. Kajian Yayasan Kharisma Indonesia menunjukkan, tempat nongkrong pelajar sudah termasuk hotel dan warung Internet mesum seharga Rp 4.000-an. Di tempat tersebut, muda-mudi itu melakukan hubungan seks atau sekadar oral seks. Bahkan presentasi dokter Lula memaparkan bahwa sebuah pesta narkoba kerap dilanjutkan dengan pesta seks. “Mereka kalau mabuk tentu lupa memakai pelindung,” kata Lula.

Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia Yulie Rettob’l mengatakan banyak kaumnya yang terjangkit virus mematikan akibat “main” tidak aman. Lembaganya kini gencar melakukan sweeping kondom kepada para waria jalanan. “Mereka minimal harus bawa tiga,” katanya.

Bila tidak, ujar waria asal Papua itu, mereka dikenai sanksi Rp 100-200 ribu. Langkah ini berdasarkan temuan di lapangan seusai Lebaran lalu, tujuh dari 10 waria yang datang dari daerah ke Jakarta positif mengidap HIV. Sungguh mengkhawatirkan.

Heru Triyono