Artikel ayam kampus 2

» CLOSE PAGE PRINT NEWS «
Lintas Berita Pendidikan
Tekan Pengangguran, Pemerintah Dorong SMK GUNA menekan angka pengangguran, pemerintah kini terus berupaya mendorong pertumbuhan Sekolah Menengah Kejuruan di daerah. Keberadaan SMK dinilai jauh lebih efektif memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja, khususnya pasar di luar negeri.“Kami sudah sepakat dengan Mendiknas bahwa pertumbuhan SMK harus terus didorong. Saat ini, kondisi objektif masih 70 : 30 (antara SMA dan SMK). Pada tahun 2009, persentase diharapkan bisa naik mencapai 60 : 40, meski tetap diupayakan ke arah ideal yaitu 50 : 50. Untuk itu, izin pendirian SMA mulai ditiadakan tahun 2007, kecuali di daerah pelosok semacam Papua,” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, Minggu (19/11).Menurut Erman, pihaknya saat ini terus mengintensifkan kegiatan dengan Depdiknas, khususnya menyangkut informasi dan kebutuhan pasar kerja lulusan SMK baik di tingkat domestik maupun internasional. Dengan pertumbuhan SMK, target penyerapan tenaga kerja di luar negeri diharapkan bisa tumbuh 100 persen, dari biasanya 450.000- 500.000 menjadi 1 juta per tahun. “Kebutuhan pasar lulusan SMK di luar negeri masih luas. Daerah tujuan utama, antara lain Timur Tengah, Asia Pasifik, Amerika, hingga Eropa. Sementara, kebutuhan pasarnya bervariasi mulai bidang elektronik, industri, perminyakan, perawat, hingga perhotelan dan pariwisata,” ujarnya kemudian. Dengan beban pengangguran yang tinggi saat ini, yaitu 11,1 juta orang dimana 36,21 persen (3,91 juta) diantaranya merupakan lulusan SMA, keberadaan SMK diharapkan bisa efektif menekan laju pengangguran. Di lain pihak, penyerapan tenaga kerja tahunan masih rendah, yaitu baru 700.000 dari 2,5 juta angkatan kerja baru per tahun.ORIENTASI KOMPETENSI“Untuk itu, pendidikan kita semestinya jangan hanya output oriented, tetapi semestinya competency oriented. Untuk itu, diperlukan pola link and match di lembaga pendidikan. Di sinilah perlunya peranan pemerintah sebagai fasilitator. Di antaranya, ya mendorong pertumbuhan SMK ini,” tambahnya kemudian.Terkait persoalan kompetensi ini, guru besar Pendidikan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Janulis Purba dalam orasinya pekan lalu menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan yang berbasis pemecahan masalah.(kcm) Ayam Kampung vs “Ayam Kampus”APA benar ayam kampung dagingnya lebih enak dari ayam ras, saya belum pernah cari tahu. Yang saya tahu, kedua jenis daging itu, kalau dinikmati wah, enak benar, apalagi kalau di-panggang. Lain halnya dengan Ayam Kampus, sebuah istilah bagi seorang mahasiswa yang berprofesi rangkap sebagai “wanita panggilan” (pelacur), dagingnya saya belum pernah nikmati, apakah enak atau tidak, apalagi saya dengar harga dagingnya “sekilo”, bisa ratusan sampai jutaan rupiah. Wah, mahal benar, bagaimana ya cara panggangnya?Membicarakan ini sebenarnya sama dengan membicarakan diri kita sendiri, tetapi sesungguhnya inilah realita yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Ayam kampus bukan isu belaka, tetapi ini sebuah fenomena yang sedang berlangsung dan kapan dia berhenti tergantung dari semua kita yang berkompoten untuk menga-tasinya. Memang ayam kampus ini tidak dijual di kampus-kampus, tetapi mereka dijual di luar kampus, sama seperti restoran yang men-jual ayam kampung panggang, demikian juga mereka dapat saja dibeli di tempat-tempat tertentu jika ada yang berminat yang lagi “gatal dan galojoh” untuk menikmatinya.Sayang fenomena itu, kurang mejadi perhatian bagi para “pe-tinggi” kampus, memberi perhatian pada pembinaan-pembinaan/ pengajaran agama dan etika serta budi pekerti bagi anak didiknya. Memang benar, tanggung jawab utama ada dalam keluarga dan pendidikan agama di gereja, masjid, pura klenteng, tapi bukankah “dagangan itu” tidak laku dalam ruang-ruang suci ibadat.Kalau begitu, mari kita mau du-duk bersama merenung dan bertindak, tidak usah berpolemik, tapi bebaskan kampus dari segala macam penyakit masyarakat, apalagi bisnis-bisnis dagingan yang dapat membawa malapetaka bukan saja bagi generasi muda sekarang ini, tapi terus berlanjut sampai kaum keturunan kita. Bisnis dagingan ini bukan saja bertentangan dengan nilai-nilai agama, tapi sangat berisiko pada jalannya perkembangbiakan anak bangsa, karena kalau terkena penyakit kelamin/ HIV/AIDS, pe-nularannya berlangsung bagaikan gunung es atau sistem pelipat-gandaan bisnis MLM. Kalau dihitung-hitung, bahaya virus flu burung yang dapat menimpa ayam kampung kita, tidak sebanding bahaya flu penyakit kelamin/ HIV/AIDS yang dengan mudah dapat menyebar melalui nikmatnya santapan daging para ayam kampus yang sudah tertular dan handai tolannya para PSK dan orang-orang yang melakukan seks bebas. Kalau kita tidak ingin musnah sebuah ge-nerasi bangsa yang cerdas, marilah kita dengan hati yang tulus terus mengkampanyekan bahaya seks bebas bagi anak bangsa, para generasi muda. Hai tante, om, oma, opa yang berprofesi sebagai germo/ calo traffiking, sayangilah anak-anakmu, keluargamu, keturunanmu. Berhentilah dari bisnis daging tersebut. Itu berbahaya sekali. Jangan hanya mencari keuntungan diri sendiri, masih ada profesi lain yang jauh lebih terhormat dari pada bisnis berbahaya ini. Lebih baik terhormat berbisnis ayam kampung walaupun keun-tungannya kecil dari pada ber-bisnis ayam kampus yang me-malukan dan merusak moral anak bangsa dan memusnah-kan generasi yang cerdas. Marilah kita pagari anak-anak kita, selain ilmu dan pengeta-huan, tetapi juga nilai agama, moralitas dan etika sebagai suatu kekuatan yang bersinergis untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan bermoral tinggi. Maju terus masyarakat kampus, kejarlah cita-cita setinggi gunung Klabat, demikian ingatan paman Sam tou Minahasa.(**)Penulis, Pengamat Sosial-Agama dan Dosen Fakultas teologi UKIT
Diposkan oleh Matahari di 22:36