AYAM KAMPUS NGGAK ADA MATINYE

September 28, 2009, 1:46 am
Filed under: Ibukota, berita, intim, travelling
Rate This

INILAH.COM, Jakarta . Orang-orang Bandung boleh bilang bahwa industri kreatif adalah aktivitas perekonomian yang tahan banting krisis. Tapi itu sepertinya perlu segera dikoreksi.

Karena ada ‘industri’ kreatif lain yang benar-benar tahan banting dari krisis ekonomi sedahsyat apapun, yaitu bisnis birahi alias pelacuran khususnya maraknya kembali ayam kampus.

Pelacuran telah menjelma menjadi sebuah hal yang sulit ditebak. Pergerakan mereka sangatlah dinamis seiring berkembangnya jaman. Ayam kampus adalah sebutan bagi mahasiswi yang punya double job menjadi pelacur di dunia kampus.
Sepak terjang ayam kampus lebih susah ditebak dibanding dengan para pelacur yang biasa berjejer di kawasan prostitusi dan lokalisasi. Bahkan jika diperhatikan penampilan dan kesehariannya di kampus, mereka terlihat sama dengan sejumlah mahasiswi lainnya.

Pasar merekapun lebih modern dengan memanfaatkan dunia online dalam menjajakan kenikmatan seks mereka. Prostitusi dunia online yang sangat terbuka menjadi ladang bagi ayam-ayam kampus menjajakan diri.
Ada yang lewat chat ataupun membuat profil di Friendster dan Facebook agar si calon pemakai jasa persetubuhan mereka dapat langsung melihat foto maupun jati diri si ayam kampus.

Harga yang dipatok pun pasti lebih mahal dibanding dengan kupu-kupu malam di daerah pelacuran. Entah apa yang menjadi alasan utama beberapa mahasiswi memutuskan untuk terlibat di dunia pelacuran ini.

Namun yang seringkali menjadi alasan adalah bahwa mereka harus membayar uang kuliah sendiri, kecewa dengan pacar, ataupun korban pemerkosaan saat masih duduk di bangku sekolah dan banyak lagi.

Isi tasnya tidak lupa selalu ada kondom dengan berbagai bentuk dan merek agar dapat setiap saat mampu melayani langganan booking-an yang hadir menghampirinya. Ada ayam kampus yang mencari langganan sendiri maupun melalui jasa ke pihak ketiga atau lewat perantara.

Harga untuk setiap booking-an ayam kampus bermacam-macam tergantung di mana dia menuntut ilmu. Ayam kampus dari universitas yang terkenal pasti lebih mahal jika di banding dengan kampus swasta yang biasa-biasa saja.

Namun itu semua tergantung dari cara ayam kampus itu memuaskan pelanggannya. Semakin ayam kampus itu memberikan servis yang memuaskan maka, namanya akan semakin melambung seiring harganya yang juga melambung tinggi.

Sepanjang Lenteng Agung dan Margonda sangat dikenal sebagai pemasok ayam kampus yang terkenal di seantero Jakarta. Bahkan sebuah penelusuran membuktikan, biar pemasaran ayam kampus lebih laris, ada ayam kampus dari universitas lain di Jakarta yang sengaja rutin mangkal atau nongkrong di kawasan Lenteng dan Margonda. [L1]

Sumber: http://inilah.com/berita/gaya-hidup/2009/04/17/99762/ayam-kampus-nggak-ada-matinye/