Pornografi Lebih Bahaya Dibanding Narkoba

Selain narkoba, ancaman terbesar bagi anak-anak Indonesia adalah pornografi. Untuk melawan narkoba, sudah banyak gerakan-gerakan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat, baik untuk mencegah maupun merehabilitisi para pemakainya. Tapi, untuk pornografi belum ada usaha besar untuk mengatasinya.

Padahal, narkoba dan pornografi memiliki bahaya yang sama. Bahkan, jika dilihat dari kerusakan otak, pornografi lebih berbahaya dari pada narkoba.
“Kecanduan narkoba itu merusak tiga bagian otak. Sedangkan kecanduan pornografi merusak lima bagian otak,” kata Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risma, saat ditemui dalam seminar Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Akibat Kecanduan Pornografi & Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia di auditorium Departemen Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin 2 Maret 2009.

Pornografi juga sudah mulai muncul dalam berbagai bentuk. Orang tua bahkan terkadang tidak menyadari bahwa bacaan atau tontonan yang dilihat anak itu mengandung unsur pornografi. Apalagi kemajuan teknologi informasi saat ini, memudahkan anak-anak mengakses bacaan, tontonan, maupun situs-situs porno.

“Menjadi orang tua itu harus selalu meningkatkan diri. Harus mengetahui apa saja yang ditonton, dibaca dan dilihat anak,” kata Elly. “Jangan sampai tidak mengerti teknologi yang biasa digunakan anak-anak, karena bisa sulit mengontrol.”

Jika sudah kecanduan pornografi, yang terjadi adalah kerusakan otak. Ini akan berpengaruh pada perilaku dan intelegensi anak-anak. Hal itulah yang sekarang mengancam anak-anak Indonesia. Beredarnya dengan bebas bacaan VCD dan DVD porno, serta kemudahan mengakses situs porno, membuat permasalahan pornografi di Indonesia semakin parah.

“Lihat saja sekarang semua hal yang berbau porno dapat diakses dengan mudah anak-anak. Internet misalnya, hanya dengan gerakan jari telunjuk, gambar dan bacaan porno bisa didapat dengan mudah,” ujar Elly.

Untuk mengatasi permasalah pornografi, dibutuhkan kerja sama semua pihak. “Masalah pornografi ini masalah yang kompleks dan untuk mengatasinya bukan hanya kerja orangtua,” katanya. Tetapi juga Departemen Kesehatan, Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, Departemen Sosial, dan institusi lain.