Menguak Jaringan Penjualan Gadis di Bawah Umur Butuh Kelihaian untuk Bisa “Memakai” Melati

Menelusuri Kehidupan “Ayam Kampus” di Yogya bagian 2 Jadi Cebu karena Patah Hati atau Broken Home
PARA ce-bu (cewek bukingan) mengaku bahwa uang yang dikirim orang tua mereka sesungguhnya cukup untuk hidup di kota yang berbiaya hidup paling rendah se-Indonesia ini, tetapi uang kiriman menjadi cepat habis karena dipakai untuk kegiatan hura-hura. Karena itu, para ce-bu biasanya selalu mengeluh tak punya uang.

Kalimat ini tujuannya untuk mengingatkan bahwa mereka tidak mau diajak kencan secara gratisan. Hanya saja, jika sekadar diajak jalan-jalan mereka tak pernah menyebut tarif untuk jasa mereka. Kalau anda mau, mereka siap berikan bonus ektra kissing lips, necking dan petting. “Terserah lo!” ujar Sinta. Namun ada juga yang secara tegas melakukan penolakan untuk melakukan hubungan seks.

Seperti yang dituturkan oleh Lisa (23) gadis asal Semarang yang keberatan menyebutkan tempat kuliahnya. Dengan tegas dia menyatakan tidak sanggup untuk melakukan hubungan seks karena takut hamil. Karenanya, maksimal dia hanya mau melayani “close up” sampai “karaoke”. Pertimbangannya karena dia hanya mengganggap bahwa terjunnya dia dalam jalur ce-bu itu bagian dari pergaulan modern sehingga dia masih merasa perlu untuk menjaga keperawanan. “Meski bejat, aku tak ingin kecewakan lelaki yang serius ingin menikahiku,” ujar Lisa.

Lain halnya dengan Sinta, dia sama sekali tidak takut hamil karena siklus haid-nya teratur. Karena itu, dia hanya mau melayani hubungan seks ketika menurut hitungannya sedang berada pada kondisi tidak subur. Jika masih berada dalam keadaan subur maka dia akan bilang bahwa dia sedang ‘libur’ (menstruasi, red).

Sebagian besar ce-bu mengaku bahwa mereka melakukan pelacuran karena permasalahan psikologis seperti keluarga yang broken home atau dikhianati pacar. Karena itu tindakan yang mereka lakukan sebagai tindakan protes terhadap keadaan yang tak nyaris tak mau berpihak kepada mereka. Jadi ada sebuah keputus-asaan yang melandasi pemikiran mereka. Sinta mengaku sengaja menjadi ce-bu karena patah hati. Hubungannya dengan sang pacar yang sudah dijalin selama 4 tahun tak direstui oleh ayahnya, sementara mereka sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Karena itu, ketika mereka putus pacaran dia merasa nyaris menjadi orang gila.

Awalnya hubungan mereka berjalan normal, tetapi bertepatan dengan hari ulang tahun sang pacar, Sinta mempersembahkan mahkota yang seharusnya dia jaga sampai pelaminan. Hanya saja Sinta berani bersumpah, karena ketulusan cinta mereka selama 4 tahun pacaran hubungan seks itu baru dilakukan sebanyak 4 kali. Tetapi, Sinta menjadi sangat marah karena semua orang mengiranya bahwa dia sudah tidur ratusan kali dengan sang pacar. “Awalnya, kita lakukan karena dia minta diberi hadiah ultah yang dapat dikenang selama hidupnya,” aku Sinta.

Di antara para ce-bu, ada yang secara terus terang mengaku tempat kos mereka agar gampang dijemput pada saat kencan tetapi ada juga yang menyamarkannya dengan harapan menjaga citra yang punya kos.
Indah (23), misalnya, kepada siapapun mengaku tinggal di sebuah rumah di Jalan Gejayan. Tetapi, setelah dicek, para ce-bu yang mengaku tak saling kenal ternyata memakai alamat yang sama.

Namun, tak jarang sejumlah ce-bu juga kesal. Sebab, orang yang memesannya ternyata justru mempermainkannya. Seperti yang dialami oleh Asty (20), dia merasa sangat terpukul karena orang yang mengencaninya ternyata memakai nama dan nomor telpon orang lain. Jadi ketika dia menghubungi nomor telpon yang dimaksud, ternyata bukan orang yang baru saja melakukan chatting dengannya sekalipun nama dan nomornya benar. Pengakuan serupa juga dilontarkan oleh Ayu (22). Mahasiswi jurusan Teknologi Informasi yang kos di Jalan Solo itu sekarang tak gampang mau terima tawaran di internet. Sebab, dia pernah berkali-kali dipermainkan orang lain. “Udah gue tunggu, nyatanya nggak jadi dateng. Kesel khan gue,” ujar Ayu. Untuk itu, jika memang orang yang membookingnya serius, dia langsung minta dijemput ditempat dia chatting. Setelah diantar ganti baju ditempat kosnya, maka ayu siap melaksanakan tugasnya.

Ingin kembali

Sesungguhnya para ce-bu tahu bahwa langkah yang mereka lakukan keliru. Karena itu, sesungguhnya mereka ingin menjadi orang baik-baik. Namun mereka tak yakin apakah mereka mampu untuk keluar dari dunia hitam yang telah mereka geluti selama ini. Rata-rata mereka sedang mencari, seorang lelaki yang mau mengerti dengan penderitaan batinnya dan mau mengerti segala kondisi yang tengah mereka alami. Secara terus terang mereka mengaku ingin membentuk sebuah rumah tangga yang sakinah, karena mereka telah terlalu lelah dengan beban yang selama ini mereka pikul.

Meski mereka menebar senyum kepada setiap lelaki, tetapi di balik senyum dan sikap manja yang mereka ‘jual’ sesungguhnya mereka menangis. Mereka merasa tak henti-henti dibelit perasaan bersalah yang terkadang hadir setiap waktu. Karena itu, mereka selalu berusaha untuk menjaga kesehatan karena pada saat sakit, mereka tersiksa oleh rasa penyesalan. Sinta, Indah, Lisa, dan Ayu mengaku bahwa mereka sudah merasa tak punya arti lagi setelah ditinggal pacar yang semula mereka sayangi. Karena mereka tahu, laki-laki lebih menuntut selembar selaput dara daripada segunung rasa setia yang siap mereka berikan. Sementara itu, ketika sakit mereka dibayangi perasaan takut mati. “Laki-laki memang egois, itu yang membuat saya mati rasa,” ujar Sinta.