Perihal Polygami: Pandangan Seorang Kristen: Pelarangan Poligami Bukan Bersumber dari Alkitab

PROLOG

Sebelumnya perlu saya kemukakan dulu bahwa poligami dalam tulisan ini merujuk kepada poligini, yakni sebuah pola hubungan laki2 dan perempuan dimana seorang laki2 diberi hak untuk berhubungan badan dan berketurunan dengan lebih dari satu orang perempuan di bawah sebuah ikatan yg relatif permanen baik berdasarkan hukum agama yg mereka anut atau berdasarkan adat istiadat atau hukum negara. Jadi poligami bisa berupa seorang suami dgn dua orang atau lebih perempuan sbg istri, gundik, selir atau pasangan yg bersifat relatif permanen.

Bentuk perkawinan poligami mungkin sama tuanya dgn bentuk perkawinan monogami. Para ahli sejarah menemukan bukti2 bahwa manusia yg hidup pada zaman pra sejarah juga menjalankan kehidupan dimana seorang laki2 menjadi semacam suami bagi beberapa orang perempuan. Keberadaan poligami erat hubungannya dengan kondisi saat itu dimana para laki2 harus berjuang melawan maut sekedar utk mencarikan makanan dan mengamankan suku mereka dari ancaman musuh dan binatang buas serta ganasnya alam. Dalam kondisi ini jumlah laki2 dalam setiap kelompok umumnya lebih sedikit daripada jumlah perempuan. Gambaran kondisi ini sampai sekarang pun masih kita temukan di beberapa suku terpencil di Indonesia. Di Papua banyak kasus poligami ditemukan di kalangan suku2 di sana, demikian pula di kalangan masyarakat dayak yg masih hidup secara nomaden di rimba2 kalimantan. Poligami juga umum terjadi di kalangan suku aborijin di Australia serta suku2 di Afrika yg masih memegang tradisi animisme dan dinamisme.

Bentuk perkawinan poligami pada masa lalu bahkan menjadi kebanggaan para raja dan tetua suku dan dianggap sebagai lambang besarnya pengaruh dan kekayaan. Perempuan yg dipoligami pun umumnya merasa bangga karena telah dijadikan istri oleh seseorang yg besar pengaruh dan kekayaannya.

Di beberapa bangsa, laki2 diperkenankan memiliki seorang istri saja namun diperbolehkan memiliki gundik yg jumlahnya tidak terbatas. Hal ini misalnya dapat dilihat dalam masyarakat Tionghoa masa lalu. Kaisar2 Tionghoa umumnya memiliki puluhan gundik atau selir. Para gundik dan selir ini statusnya berada di bawah permaisuri serta dianggap sekedar sebagai pemuas nafsu seks dan perlambang luasnya pengaruh dan kekayaan sang kaisar.

Poligami bahkan diatributkan kepada dewa2 yg menjadi sembahan bangsa2 jaman dahulu. Sesembahan bangsa Romawi-Yunani, Dewa Zeus atau Jupiter digambarkan memiliki beberapa orang istri, salah satunya adalah seorang perawan manusia yg melahirkan Herkules.
Demikian pula Dewa Ra yg menjadi sesembahan bangsa mesir kuno. Tidak heran kalau kemudian poligami dianggap sebagai karakteristik ilahiah sehingga para penguasa yg mengaku keturunan dewa atau bahkan dewa itu sendiri pasti berpoligami.

Dalam lingkungan sosial budaya yg begitu pro terhadap poligami, adalah masuk akal kalau para penulis kitab2 perjanjian baru ataupun perjanjian lama juga bersifat pro terhadap poligami. Namun umat kristiani umumnya menolak keras kemungkinan ini. Karena itu, saya ingin mengajak umat kristiani yg membaca tulisan ini untuk menelaah kembali posisi poligami menurut alkitab murni berdasarkan ayat2 alkitab itu sendiri. Untuk sementara mari kita kesampingkan segala penafsiran di luar alkitab yg selama ini kita anggap “sudah pasti benar” karena tidak ada yg pasti benar kecuali Tuhan.

—————————————————-

POLIGAMI DALAM KITAB2 PERJANJIAN LAMA

1. Banyak nabi, raja dan orang pilihan Tuhan yg berpoligami

Lamech, ayahanda Nuh, memiliki 2 istri: Adah dan Zillah. Abraham dianggap sebagai bapak dari tiga agama besar: yahudi, kristiani dan islam. Beliau memiliki tiga istri: Sarah, Hagar dan Keturah. Yakub, cucu Abraham, dipandang sebagai Bapak bangsa Israel. Yakub memiliki empat orang istri: Rachel, Leah, Bilhah, dan Zilpah. Saudaranya, Esau memiliki 5 orang istri, yakni Judith, Bashemath, Mahalath, Adah dan Aholibamah. Daud, Raja Israel yg memimpin bangsa Israel melepaskan diri dari penjajahan bangsa lain serta dianggap sebagai penerima kitab Mazmur dari Tuhan, memiliki 100 istri. Anaknya, raja Solomon bahkan memiliki 700 istri. Putra Solomon yg menjadi Raja di Jerusalem, Rehoboam, memiliki 18 istri (II Tawarikh 11:21). Baik Daud, Salomon maupun Rehoboam juga memiliki gundik yg jumlahnya bahkan lebih banyak dari jumlah istri2 mereka. Putra Rehoboam, Abijah yg menjadi permersatu bangsa israel paska perpecahan di zaman Rehoboam, memiliki 14 Istri. Lalu Musa, penulis Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan memiliki 2 istri, Zipporah dan seorang perempuan Ethiopia. Gideon
memiliki banyak istri (Hakim2 8:30).

Lebih banyak lagi figur orang pilihan Tuhan di dalam Kitab2 Perjanjian Lama yg diceritakan berpoligami. Bahkan boleh dikatakan figur2 yg berpoligami lebih banyak di dalam kitab2 tersebut dibandingkan jumlah figur2 yg bermonogami. Tidak ada figur yg diceritakan selibat alias membujang sampai mati.

2. Tuhan sendiri menyetujui poligami

Dalam 2 Samuel 12:8, Tuhan berkata kepada Daud: “Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.” JELAS TUHAN MENYETUJUI DAN BAHKAN BERPERAN DALAM POLIGAMI yg dilakukan Daud.

Mereka yg antipoligami seringkali menggunakan ayat berikut:

II Samuel 11:27 “Setelah lewat waktu berkabung, maka Daud menyuruh membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menjadi isterinya dan melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN.”

Mereka lupa, bahwa yg dianggap jahat oleh Tuhan adalah perbuatan Daud yg mengatur kematian suami Batsheba agar dia dapat memperistri perempuan tersebut, bukan karena Daud berpoligami:

II samuel 12:9-10 “Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.”

Dalam Bilangan 12 diceritakan: “Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush” (bilangan 12:1). Tuhan marah kepada keduanya dan bahkan menghukum Miriam dgn penyakit kusta yg dideritanya selama 7 hari (Bilangan 12:10). Tuhan TIDAK MARAH KEPADA MUSA YG BERPOLIGAMI TAPI MALAH MENGHUKUM MIRYAM YG MEMPERMASALAHKAN POLIGAMI MUSA. Jelas Tuhan menyetujui poligami!.

Ulangan 21:15 menjelaskan aturan ttg hak anak2 dari istri2 yg dipoligami: “Apabila seorang mempunyai dua orang isteri, yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya, dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai, dan anak sulung adalah dari isteri yang tidak dicintai, maka pada waktu ia membagi warisan harta kepunyaannya kepada anak-anaknya itu, tidaklah boleh ia memberikan bagian anak sulung kepada anak dari isteri yang dicintai merugikan anak dari isteri yang tidak dicintai, yang adalah anak sulung.”

Ayat di atas berisi aturan untuk manusia biasa, bukan hanya para nabi, yg artinya Tuhan juga mengijinkan poligami pada manusia biasa.

Ayat lain dalam Perjanjian Lama yg sering dikutip mereka yg anti poligami adalah:

Kejadian 2:23-24 “Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Itu adalah kata2 Adam, BUKAN kata2 Tuhan, dan kata2 itu dikeluarkan Adam sebelum ia memakan buah dari Pohon Pengetahuan sehingga dia saat itu belum tahu mana yg baik dan mana yg buruk. Dan kata2 itu juga tidak mengatakan bahwa setelah laki2 bersatu dgn istrinya, dia tidak boleh bersatu lagi dgn istri yg lain yg dikawininya setelah itu.

3. Tuhan mengumpamakan dirinya berpoligami

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan beberapa kali membuat perumpamaan seolah2 Dia berpoligami. Dalam Yehzkiel 23, Tuhan mengumpamakan Samaria dan Jerusalem seperti 2 bersaudara Ohola dan Oholiba yg bersuamikan Tuhan sendiri. Dalam Yeremia 3, Tuhan mengumpamakan israel
dan Yehuda seperti dua orang istri-Nya yg berkhianat kepada-Nya dgn bersundal.

KAlau Tuhan mengumpamakan dirinya berpoligami, mana mungkin Tuhan menganggap poligami itu dosa?

—————————————————-

POLIGAMI DALAM KITAB2 PERJANJIAN BARU

Yang pertama harus diingat adalah TIDAK SATU AYATPUN DALAM PERJANJIAN BARU YG SECARA TEGAS MELARANG POLIGAMI. Pelarangan poligami murni berasal dari
penafsiran para penafsir alkitab dgn tujuan untuk menyingkronkan ajaran alkitab dgn ajaran moral yg mereka yakini kebenarannya. Penafsiran bisa salah, dan ayat2 yg menurut para penafsir berisi larangan poligami boleh jadi ditafsirkan berbeda oleh pihak yg netral. Ayat2 yg acapkali diklaim sebagai “bukti” larangan poligami di antaranya adalah:

1. Matius 19:5-6 “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ayat ini TIDAK mengatakan bahwa sesudah laki2 menjadi satu daging dgn istri pertamanya dia TIDAK BOLEH menjadi satu daging dgn istri2 yg lain yg dikawininya setelah itu. Dan sebenarnya, ayat ini berbicara ttg tidak bolehnya bercerai. Poligami justru dapat mencegah perceraian.

2. Matius 19:9 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena
zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Ayat ini melarang Suami utk menceraikan istrinya lalu kawin lagi dgn perempuan lain. Namun ayat ini TIDAK MELARANG SUAMI UTK KAWIN DGN PEREMPUAN LAIN JIKA DIA TIDAK MENCERAIKAN ISTRINYA YG TERDAHULU alias poligami.

Surat2 Paulus dalam I Timotius 3:2 dan 12 juga sering digunakan sebagai dalil utk mengatakan bahwa poligami dilarang:

“Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,” “Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.”

Jelas dalam kedua ayat ini yg dilarang Paulus berpoligami adalah pimpinan jemaat, baik itu pendeta, uskup atau sejenisnya. Pelarangan ini BUKAN DITUJUKAN UNTUK UMAT kristiani KEBANYAKAN. Kalau ada yg mengatakan bahwa pelarangan itu utk orang kebanyakan juga, maka ia pun harus menerima syarat2 yg lain sebagai syarat2 yg harus dipenuhi pula oleh orang kebanyakan: misalnya tak bercacat, apakah berarti orang cacat tidak boleh menjadi umat kristiani? Cakap mengajar orang, apakah orang yg tidak cakap mengajar tidak boleh menjadi umat kristiani?

Dan alasannya pun bukan karena poligami itu dilarang Tuhan, tetapi karena dengan punya satu orang istri saja maka seorang pimpinan jemaat akan dapat lebih baik dalam melayani jemaatnya.

I Timotius 3:13 “Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.”

Nah, kalau di dalam Perjanjian Baru ternyata tidak ada ayat2 yg melarang poligami, lalu apakah ada ayat2 yg membolehkan poligami?

1. Yesus Tidak Membatalkan Hukum yg Dibawa oleh Musa

Dalam Matius 5:18-19 Yesus berkata:

“Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

Musa memperbolehkan poligami bahkan beliau sendiri berpoligami, di lain pihak Yesus menyatakan bahwa segala hukum yg dibawa Musa tetap berlaku, tentu termasuk aturan yg memperbolehkan poligami. DI samping itu, Yesus TIDAK SEKALIPUN pernah membatalkan hukum taurat yg memperbolehkan poligami sebagaimana yg dilakukannya terhadap aturan perceraian. Artinya YESUS MEMPERBOLEHKAN POLIGAMI.

2. Tuhan mengumpamakan dirinya berpoligami

Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, di dalam Perjanjian Barupun terdapat ayat dimana Tuhan mengumpamakan dirinya menjadi suami dari beberapa istri alias berpoligami.

Matius 25:1-2 “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.”

Mereka yg antipoligami mengatakan bahwa kesepuluh gadis tsb adalah gadis2 pengiring pengantin, bukan gadis2 yg akan dinikahi oleh sang mempelai laki2. Ini adalah murni penafsiran karena tidak ada ayat2 alkitab yg mendukungnya. Yang jelas kata “gadis” dalam ayat di atas berasal dari kata Yunani “parthenos” yg berarti “perempuan muda yg belum menikah”. Dalam Matius 25, tidak ada disebut2 tentang “mempelai perempuan” sehingga pastilah yg menjadi mempelai perempuan adalah kesepuluh gadis itu sendiri.

KAlau Tuhan mengumpamakan dirinya berpoligami, maka pastilah Tuhan juga memperbolehkan poligami.

3. Ujian dari Kaum Saduki

Dalam Matius 22 diceritakan bahwa Kaum Saduki menguji Yesus dgn pertanyaan tentang ketentuan dari Musa bahwa apabila seorang laki2 yg telah beristri meninggal tanpa memiliki anak, maka istrinya harus dikawinkan dgn saudara dari laki2 tsb. Tidak ada ketentuan bahwa
hal ini hanya berlaku bila sang saudara laki2 belum beristri. Kalau dia sudah beristri dan tetap mengawini istri almarhum saudaranya, maka otomatis laki2 itu berpoligami.

Namun ketika menjawab pertanyaan ujian dari kaum Saduki tsb, sedikitpun Yesus tidak mempermasalahkan apakah saudara dari suami yg telah meninggal tsb telah
punya istri atau belum. Kalau Yesus mempermasalahkannya, tentu beliau akan bertanya kepada
kaum saduki “Saudaranya itu sudah kawin atau belum?”. Tapi Yesus sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu dan menjawab “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Matius 22:30).

Yesus tidak mempermasalahkan status saudara laki2 tsb karena memang Yesus TIDAK PERNAH MELARANG POLIGAMI.

4. Paulus Menyamakan Suami sebagai Yesus yg seorang diri mengepalai jemaat

Efesus 5:23 “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.”

Siapapun tahu bahwa jemaat pasti terdiri dari lebih satu orang. Paulus dalam ayat ini membandingkan suami sebagai Kristus yg seorang diri mengepalai beberapa orang anggota jemaat sementara istri dibandingkan dgn anggota2 jemaat tsb. Ini bisa diartikan bahwa Paulus membolehkan seorang suami mengepalai beberapa orang istri.

—————————————————-

EPILOG

Jadi jelaslah sudah bahwa Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru SEDIKITPUN TIDAK MELARANG POLIGAMI. Pelarangan poligami dibuat oleh para pimpinan gereja yg hidup setelah meninggalnya Yesus dan para murid beliau. Hal ini terkait dgn sikap para pimpinan gereja saat itu yg memang negatip terhadap perkawinan baik monogami apalagi poligami.

Origen (c185-254) terkenal dgn sikapnya yg anti perempuan dan anti seks. Pada umur 18 tahun dia
mengebiri dirinya sendiri agar mencapai “kesempurnaan kristiani”. Menurut Origen, perempuan lebih jelek daripada binatang dalam hal birahi karena menurutnya perempuan selalu dalam birahi. Karena itu dia menghendaki laki2 agar menjauhi hubungan seks dgn perempuan.
St. Ambrose (c339-397), Bishop Milan, menganjurkan umat kristiani utk menghindari perkawinan, dan bagi yg terlanjur kawin dia melarang mereka utk berhubungan seks kecuali utk memperoleh keturunan. Karena itu bagi pasangan yg sudah tidak mungkin lagi memperoleh keturunan Ambrose melarang berhubungan seks. St. Jerome (c342-420), ahli injil terkenal sekaligus penterjemah injil berbahasa latin “vulgata” menganggap “kesenangan yg didapat dari hubungan perkawinan hanyalah utk menghindari sesuatu yg lebih buruk. Tapi nilai apa yg bisa diperoleh dari sesuatu yg dianggap baik hanya karena dapat menghindarkan sesuatu yg lebih buruk?”. Satu2nya yg baik dari perkawinan menurut Jerome adalah karena perkawinan menghasilkan para perawan.

St. John Chrysostom (c347-407), Bishop Constantinople, mengatakan bahwa secara umum perempuan itu lemah dan suka bertingkah tidak karuan. Menurutnya: “Tidak ada untungnya laki2 menikah, karena perempuan hanyalah musuh persahabatan, hukuman yg tak terhindarkan, si jahat yg kita perlukan, godaan alamiah, bahaya dalam rumah tangga, kenakalan yg nikmat, kekeliruan alam, yg semuanya dicat dgn warna yg indah?”.

St. Augustine (354-450), Bishop dari Hippo, melalui kenikmatan seksual lah dosa warisan diturunkan dari generasi ke generasi. Karena itu hubungan seks suami istri hanya dibolehkan dlm rangka mendapatkan keturunan.

Besar kemungkinan, berkembangnya sikap antipoligami di kalangan umat kristiani disebabkan karena para pemuka umat ingin membedakan ajaran agama kristiani dgn ajaran yahudi dan islam yg memang membolehkan poligami dengan batasan2 tertentu. Pada perkembangannya, isu poligami digunakan untuk menjelek2kan agama yahudi dan islam dgn mengatakan bahwa poligami adalah perbuatan yg melanggar moralitas. Dalam posisi ini, mereka yg mempelajari alkitab atau sekedar membaca atau mendengarnya tidak punya pilihan lain kecuali mencari
pembenaran atas sikap antipoligami. Lalu diupayakanlah menghubung2kan ayat2 alkitab tertentu sebagai bukti pelarangan poligami. Padahal TIDAK SATU AYAT PUN dalam alkitab yg secara tegas dan jelas melarang poligami.

Namun sikap menolak poligami itu tidak sepenuhnya diikuti oleh seluruh umat kristiani masa itu maupun di masa sekarang. Sejumlah pemimpin Eropa di abad pertengahan yg sudah pasti beragama kristiani ternyata juga berpoligami. Hal ini diceritakan dalam buku “The History of Human Marriage” yg dikarang oleh Edward Wastermarck (hal. 50-51):

Di pertengahan abad ke 6, Diarmat, Raja Irlandia, memiliki dua istri dan dua gundik. Poligini (beristri
lebih dari satu) secara luas dilakukan oleh raja2 Merovingian. Charles The Great punya dua istri dan banyak gundik; dan dalam salah satu hukum yg dibuatnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa poligini bukanlah hal yg tidak ada di kalangan pendeta. Pada masa2 berikutnya PHilip dari Hesse dan Frederick William II dari Prusia melakukan perkawinan bigami (beristri dua) dengan persetujuan Gereja Lutheran. Luther sendiri merestui bigami mereka begitu pula Melanchton. Dalam berbagai kesempatan Luther berbicara ttg poligini dgn penuh toleransi. Poligini tidak pernah dilarang oleh Tuhan; bahkan Abraham yg merupakan seorang kristiani yg sempurna memiliki dua
istri (penterjemah: semestinya tiga). Benar bahwa Tuhan telah mengijinkan perkawinan semacam ini untuk orang2 pilihannya di dalam Perjanjian Lama dalam situasi tertentu, dan jika umat ada umat kristiani yg ingin mengikuti teladan mereka ini maka dia harus menunjukkan bahwa dia berada dalam situasi yg sama; tapi tidak diragukan lagi bahwa poligami lebih baik dari perceraian. Di tahun 1650, segera setelah ditandatanganinya Perjanjian Damai Westphalia, saat itu populasi sangat berkurang akibat perang yg berlangsung 30 tahun tersebut, maka Frankish Krestag di Nurenberg mengeluarkan peraturan yg mengijinkan setiap laki2 utntuk menikahi dua perempuan.

Sekarangpun di kalangan kristiani terdapat pihak2 yg memperbolehkan poligami, di antaranya adalah para penganut Mormon serta para pengikut gerakan “christan polygamy”, sebuah gerakan dari kalangan protestan yg mengaku mendasarkan gerakan mereka murni pada alkitab.

Kesimpulannya: SIKAP ANTI POLIGAMI ATAU ANGGAPAN BAHWA POLIGAMI ITU DOSA ATAU TIDAK BERMORAL ADALAH SIKAP YG TIDAK KITABIAH! Kita boleh saja tidak setuju dgn poligami, namun janganlah kita mengatasnamakan Tuhan atau Yesus atau alkitab. Kalau kita melakukan hal ini maka sama saja kita mengatakan bahwa Abraham, Yakub, Daud, Solomon, Musa dan orang2 pilihan Tuhan lainnya telah melanggar ketentuan Tuhan. Sebuah sikap yg teramat lancang. Ingatlah peringatan yesus:

“Maka mulailah Yesus berkata kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (Markus 13:5-6, matius 24:4-5)

asal dari sini: http://dir.groups.yahoo.com/group/gbkp/message/6763