Tanya Jawab Kenapa Perempuan Papua Menjadi Sundal atau Menyundalkan Diri?

Bagian ini kami peruntukkan bagi Anda mengajukan pertanyaan, atau kami tanya, baru siapa saja bisa jawab, menurut pandangan masing-masing.

Pertanyaan 01. Kenapa ada Persundalan Perempuan Papua?

Atau “Alasan apa yang menyebabkan sampai ada perempuan Papua yang merelakan dirinya dinikmati oleh laki-laki secara gonta-ganti tanpa menghargai diri dan martabatnya sendiri?”

Kebanyakan jawaban yang kami terima dari berbagai perempuan Papua yang kami kenal, terutama saudara-saudara perempuan yang kami anggap mereka setuju dengan persundalan perempuan Papua, maka jawaban mereka yang pertama dan kebanyakan adalah

karena susah uang

SUSAH UANG ini bisa disebabkan oleh beberapa hal:

1 Karena suami atau orang tua tidak memberikan uang untuk kepentingan keluarga, jadi isteri cari jalan;

2. Kedua memang alasannya sama, tetapi bagi yang tidak ada suami, atau yang sudah menceraikan/ diceraikan suami, mereka bilang juga alasan tidak ada uang untuk makan/ minum, jadi cari uang dengan cara ini. Akibatnya isteri bisa menjadi sundal, atau anak dari hasil perceraian itu juga mencari jalan keluar untuk memenuhi kepentingannya (untuk hidup, untuk berdandan, untuk kuliah, dsb).

Apakah ada jawaban alasan lain? Silahkan sampaikan di sini.

Ada juga jawaban lain, yaitu:

3. Ketiga, karena pernah dikecewakan pacar/ suami. Dalam hal ini sebenarnya perempuan tidak melakukan perbuatan amoral ini karena susah uang, tetapi karena dia mau balas dendam terhadap laki-laki. Jadi sakit hatinya terhadap laki-laki itu dia lampiaskan kepada laki-laki lain, selain pacar/ suaminya yang pernah membuat dia sakit hati/ hancur dalam cinta. Dia menjadi membenci laki-laki, tetapi untuk melampiaskan kebencian itu, dia terlibat dalam permainan persundalan dan kadang-kadang dia menjalin hubungan dekat dengan laki-laki tertentu, baru dia mulai mencari gara-gara, baru dia mulai membuang laki-laki itu. Dengan melihat laki-laki itu rasa sakit, maka dia rasa puas, dia merasa sudah balas dendam kepada laki2.

4. Keempat, ada juga perempuan memang suka dengan seks, dan bila kesukaan itu tidak dipenuhi di dalam rumah, dia akan selalu keluar mencari laki-laki/ perempuan lain. Perempuan jenis ini, walaupun dia sudah punya laki-laki (entah pacar atau suami), dia selalu tidak merasa puas, dia selalu ‘jajan’ di luar. Dia sangat menikmati seks, sehingga dia menjalankannya dengan kesukaan dan kenikmatan, tanpa memperdulikan dia dibayar ataupun tidak. Tidak dibayar-pun dia tidak rasa rugi, karena yang dicarinya bukan uang, tetapi seks. Kalau dibayar dia jarang bilang “Terimakasih!” tetapi dia ambil uang itu diam-diam. Memang dia tidak perlu uang, dia perlu seks.

5. Kelima, dan perlu kita ketahui di sini bahwa banyak perempuan Papua yang masuk ke dalam kelompok ini, yaitu “sulit melepaskan kebiasaan nasa muda, masa lalu”. Pergaulan bebas sudah dimulai sejak SD atau SPM, dan kebiasaan itu terus terpupuk dan berkembang dari sana. Seks menjadi bagian dari hidup, malahan akhirnya menjadi kebutuhan. Jadi, pada waktu kebiasaan atau kebutuhan hidup itu tidak dipenuhi, dia akan memberontak kepada suami atau isteri atau orang tua.

Perempuan kelompok ini sering menunjukkan rasa menyesal, sering minta maaf, sering berjanji untuk berhenti kepada orang lain (misalnya orang tua atau suami atau isteri), tetapi setelah satu dua jam, setelah beberapa waktu, dia punya kemauan menyundal itu tidak bisa dimatikan, persundalan berlanjut seperti sediakala. Sama dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang sulit dilepaskan seperti mabuk, merokok, menghisap ganja, ngopi, ngeteh, dan sebagainya, persundalan telah menjadi kebiasaan, sehingga si pelaku selalu sulit melepaskannya.

Kalau seks atau persundalan itu menjadi ‘kebiasaan’ atau ‘kesukaan’, maka ini memang sangat sulit dilepaskan. Kalau tidak ada seks (persundalan) justru orang (laki atau perempuan) itu duduk, berbicara, makan, minum dalam muka muram, seperti orang stress. Setelah dia keluar menikmati, pulang dalam keadaan ‘segar-bugar penuh senyum dan ketawa-ketawa’.

Begitu kira-kira yang dapat disampaikan untuk kesempatan ini. Kalau mau sambung artikel ini, silahkan masukkan dalam Kotak KOMENTAR dalam blog ini.