Tagged: booking Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • sundalpapua 7:05 pm on April 13, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , booking   

    Booking Ayam Kampus? Sekarang Gampang! 

    Booking Ayam Kampus? Sekarang Gampang!
    Mau pesan Ayam Kampus nih bos. Ada stok ayam kampus yang masih segar ga? Yang masih maknyus gitu..

    Hmm..Ayam Kampus? Pikirku itu salah satu menu makanan yang mungkin mirip-mirip dengan Ayam Goreng, Ayam Panggang, Sate Ayam, Sup Ayam, Mie Ayam, dan masakan-masakan ayam lainnya. Busyet katrok banget sih.. Ya maap, maklum orang kampung kan ngertinya cuma ayam jago, ayam kampung, ma ayam potong aja. Mana ngerti Ayam Kampus. Emang ayam bisa kuliah juga to?

    Fenomena Ayam Kampus sebenarnya sudah sejak lama meresahkan dunia pendidikan Perguruan Tinggi di Indonesia. Ayam Kampus adalah julukan bagi mahasiswi yang berprofesi ganda, ya bisa jadi mahasiswa ya bisa jadi ayam. Bertelur dong. 😀 Ngeramin telur iya. Kadang-kadang kita malah sulit membedakan antara mahasiswi “beneran” dengan yang “jadi-jadian” alias Mahasiswi Cantik yang jadi Ayam Kampus ini. Tentu saja karena penampilan dan tingkah laku mereka seperti mahasiswa kebanyakan. Yang membedakan hanyalah mereka punya kerjaan sampingan untuk memuaskan hasrat laki-laki hidung belang.

    Tapi jangan spontan mengutuk atau mencibir ya. Rupanya sebagian besar mahasiswi yang memilih menjadi Ayam Kampus hanya terpaksa saja. Beberapa orang dari mereka terpaksa mencari uang tambahan untuk membayar uang kuliah sendiri karena orang tua tidak sanggup membayarkan, selain itu ada yang menjadi Ayam Kampus karena merasa kecewa dengan pacar, dan bahkan ada yang akhirnya menjadi Ayam Kampus karena pernah menjadi korban pemerkosaan saat masih kecil atau saat duduk di bangku sekolah dan masih banyak alasan yang lainnya. Meskipun tak dapat dipungkiri ada juga yang memang memilih menjadi Ayam Kampus karena harus memenuhi gaya hidupnya yang mewah, beli ini, beli itu. Sehingga akhirnya keasyikan menjadi Ayam Kampus. Harga Ayam Kampus juga bervariasi, ada yang puluhan ribu, ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah pun juga ada. Hmm.. padahal service ayam kampus yang ditawarkan juga sama kan? hehehe..

    Ayam Kampus lebih sulit dideteksi dibandingkan wanita-wanita penjaja seks yang mangkal di pinggiran jalan. Biasanya untuk memesan Ayam Kampus tidak bisa sembarangan. Ada beberapa hal yang harus mereka pertimbangkan sebelum memutuskan mau memberikan “service”. Ada yang maunya di hotel mewah, dijemput dengan mobil, ketemuan di restoran, di mall, dan lain sebagainya. Mau pesan Ayam Kampus pun agak sulit karena harus punya channel ke mereka. Selain itu tarifnya lebih mahal daripada “ayam biasa”. Tarif akan ditentukan dengan melihat asal kampus dan pamor si Ayam Kampus dalam dunia per-ayaman-an. Semakin hebat ia memuaskan pelanggan semakin tinggi tarifnya.

    Tidak hanya kampus-kampus biasa yang banyak dihuni Ayam Kampus ini, Universitas-universitas top di Indonesia juga tak lepas dari Ayam Kampus. Jangankan kampus negeri, kampus-kampus swasta yang “bermerk” agamais pun banyak menjadi tongkrongan Ayam Kampus. Jangankan kota besar seperti Jakarta, sekarang sudah mulai banyak Ayam Kampus Bandung, Ayam Kampus Jogja, Ayam Kampus Semarang, Ayam Kampus Malang, Ayam Kampus Surabaya, Ayam Kampus Makassar, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Wah..wah.. Gila yah.. Sayangnya pihak kampus sendiri kurang mampu mengendalikan fenomena pelacuran dalam kampus ini. Jadi harus gimana dong? Sampai kapan fenomena ini dibiarkan? Entahlah.

    Iklan
     
  • sundalpapua 6:56 pm on April 13, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , booking,   

    Artikel ayam Kampus 1 

    senin, 24 maret 2008

    Selasa, 30/04/2002Geliat “Ayam-Ayam” Kampus, Bagaimana Mereka Sekarang? (1)Istilah “ayam” kampus sempat populer beberapa tahun lalu. Mereka adalahmahasiswi yang terjun di dunia prostitusi. Bagaimana fenomena itu sekarang?Sepi, biasa-biasa, atau malah ramai? Berikut hasil pelacakan Jawa Pos.

     
  • sundalpapua 6:49 pm on April 13, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , booking,   

    Artikel ayam kampus 2 

    » CLOSE PAGE PRINT NEWS «
    Lintas Berita Pendidikan
    Tekan Pengangguran, Pemerintah Dorong SMK GUNA menekan angka pengangguran, pemerintah kini terus berupaya mendorong pertumbuhan Sekolah Menengah Kejuruan di daerah. Keberadaan SMK dinilai jauh lebih efektif memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja, khususnya pasar di luar negeri.“Kami sudah sepakat dengan Mendiknas bahwa pertumbuhan SMK harus terus didorong. Saat ini, kondisi objektif masih 70 : 30 (antara SMA dan SMK). Pada tahun 2009, persentase diharapkan bisa naik mencapai 60 : 40, meski tetap diupayakan ke arah ideal yaitu 50 : 50. Untuk itu, izin pendirian SMA mulai ditiadakan tahun 2007, kecuali di daerah pelosok semacam Papua,” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, Minggu (19/11).Menurut Erman, pihaknya saat ini terus mengintensifkan kegiatan dengan Depdiknas, khususnya menyangkut informasi dan kebutuhan pasar kerja lulusan SMK baik di tingkat domestik maupun internasional. Dengan pertumbuhan SMK, target penyerapan tenaga kerja di luar negeri diharapkan bisa tumbuh 100 persen, dari biasanya 450.000- 500.000 menjadi 1 juta per tahun. “Kebutuhan pasar lulusan SMK di luar negeri masih luas. Daerah tujuan utama, antara lain Timur Tengah, Asia Pasifik, Amerika, hingga Eropa. Sementara, kebutuhan pasarnya bervariasi mulai bidang elektronik, industri, perminyakan, perawat, hingga perhotelan dan pariwisata,” ujarnya kemudian. Dengan beban pengangguran yang tinggi saat ini, yaitu 11,1 juta orang dimana 36,21 persen (3,91 juta) diantaranya merupakan lulusan SMA, keberadaan SMK diharapkan bisa efektif menekan laju pengangguran. Di lain pihak, penyerapan tenaga kerja tahunan masih rendah, yaitu baru 700.000 dari 2,5 juta angkatan kerja baru per tahun.ORIENTASI KOMPETENSI“Untuk itu, pendidikan kita semestinya jangan hanya output oriented, tetapi semestinya competency oriented. Untuk itu, diperlukan pola link and match di lembaga pendidikan. Di sinilah perlunya peranan pemerintah sebagai fasilitator. Di antaranya, ya mendorong pertumbuhan SMK ini,” tambahnya kemudian.Terkait persoalan kompetensi ini, guru besar Pendidikan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Janulis Purba dalam orasinya pekan lalu menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan yang berbasis pemecahan masalah.(kcm) Ayam Kampung vs “Ayam Kampus”APA benar ayam kampung dagingnya lebih enak dari ayam ras, saya belum pernah cari tahu. Yang saya tahu, kedua jenis daging itu, kalau dinikmati wah, enak benar, apalagi kalau di-panggang. Lain halnya dengan Ayam Kampus, sebuah istilah bagi seorang mahasiswa yang berprofesi rangkap sebagai “wanita panggilan” (pelacur), dagingnya saya belum pernah nikmati, apakah enak atau tidak, apalagi saya dengar harga dagingnya “sekilo”, bisa ratusan sampai jutaan rupiah. Wah, mahal benar, bagaimana ya cara panggangnya?Membicarakan ini sebenarnya sama dengan membicarakan diri kita sendiri, tetapi sesungguhnya inilah realita yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Ayam kampus bukan isu belaka, tetapi ini sebuah fenomena yang sedang berlangsung dan kapan dia berhenti tergantung dari semua kita yang berkompoten untuk menga-tasinya. Memang ayam kampus ini tidak dijual di kampus-kampus, tetapi mereka dijual di luar kampus, sama seperti restoran yang men-jual ayam kampung panggang, demikian juga mereka dapat saja dibeli di tempat-tempat tertentu jika ada yang berminat yang lagi “gatal dan galojoh” untuk menikmatinya.Sayang fenomena itu, kurang mejadi perhatian bagi para “pe-tinggi” kampus, memberi perhatian pada pembinaan-pembinaan/ pengajaran agama dan etika serta budi pekerti bagi anak didiknya. Memang benar, tanggung jawab utama ada dalam keluarga dan pendidikan agama di gereja, masjid, pura klenteng, tapi bukankah “dagangan itu” tidak laku dalam ruang-ruang suci ibadat.Kalau begitu, mari kita mau du-duk bersama merenung dan bertindak, tidak usah berpolemik, tapi bebaskan kampus dari segala macam penyakit masyarakat, apalagi bisnis-bisnis dagingan yang dapat membawa malapetaka bukan saja bagi generasi muda sekarang ini, tapi terus berlanjut sampai kaum keturunan kita. Bisnis dagingan ini bukan saja bertentangan dengan nilai-nilai agama, tapi sangat berisiko pada jalannya perkembangbiakan anak bangsa, karena kalau terkena penyakit kelamin/ HIV/AIDS, pe-nularannya berlangsung bagaikan gunung es atau sistem pelipat-gandaan bisnis MLM. Kalau dihitung-hitung, bahaya virus flu burung yang dapat menimpa ayam kampung kita, tidak sebanding bahaya flu penyakit kelamin/ HIV/AIDS yang dengan mudah dapat menyebar melalui nikmatnya santapan daging para ayam kampus yang sudah tertular dan handai tolannya para PSK dan orang-orang yang melakukan seks bebas. Kalau kita tidak ingin musnah sebuah ge-nerasi bangsa yang cerdas, marilah kita dengan hati yang tulus terus mengkampanyekan bahaya seks bebas bagi anak bangsa, para generasi muda. Hai tante, om, oma, opa yang berprofesi sebagai germo/ calo traffiking, sayangilah anak-anakmu, keluargamu, keturunanmu. Berhentilah dari bisnis daging tersebut. Itu berbahaya sekali. Jangan hanya mencari keuntungan diri sendiri, masih ada profesi lain yang jauh lebih terhormat dari pada bisnis berbahaya ini. Lebih baik terhormat berbisnis ayam kampung walaupun keun-tungannya kecil dari pada ber-bisnis ayam kampus yang me-malukan dan merusak moral anak bangsa dan memusnah-kan generasi yang cerdas. Marilah kita pagari anak-anak kita, selain ilmu dan pengeta-huan, tetapi juga nilai agama, moralitas dan etika sebagai suatu kekuatan yang bersinergis untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan bermoral tinggi. Maju terus masyarakat kampus, kejarlah cita-cita setinggi gunung Klabat, demikian ingatan paman Sam tou Minahasa.(**)Penulis, Pengamat Sosial-Agama dan Dosen Fakultas teologi UKIT
    Diposkan oleh Matahari di 22:36
     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal