Tagged: fenomena sosial Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • sundalpapua 4:32 pm on February 8, 2013 Permalink | Balas
    Tags: fenomena sosial, ,   

    Kehidupan “ABG Ayam Kampus” di Yogyakarta 

    Menelusuri Kehidupan “ABG Ayam Kampus” di Yogyakarta

    Lebih Suka Dijemput dengan Sepeda Motor. FENOMENA pelacuran mahasiswa di Kota Yogyakarta kian merebak. Mereka tidak malu lagi menjajakan tubuhnya secara terbuka, dan mau secara jujur mengakui bahwa mereka memang gadis panggilan. Mereka menamakan diri sebagai “ce-bu” singkatan dari cewek bukingan atau cewek bookingan. Rata-rata mereka adalah kumpulan anak luar kota yang terlalu kenyang dengan persoalan keluarga dan melarikan diri ke Yogya.

    Untuk melihat dari dekat aktivitas mereka, kami melakukan investigasi untuk menguak sisi-sisi kehidupan mereka yang diturunkan dalam tulisan bersambung mulai hari ini.

    JIKA Anda suka chatting pada folder Yogyakarta dari server MIRc maka akan ditemukan dengan mudah sejumlah nickname (nama panggilan) yang menggoda untuk disapa. Tetapi, sudah menjadi rahasia umum sejumlah “ayam kampus” ternyata juga memanfaatkan arena ini sebagai ajang untuk menjaring mangsa. Mereka memakai indentitas yang tersamar tetapi jelas seperti: ce_bth_duit, ce_mencari_cinta, girlsexy, ce_xxxtravaganza, ce_mau_ML, spidergirl, ce_mau_jalan, atau nama lain yang mengesankan bahwa mereka adalah ce-bu.

    Bahkan ada yang secara gamblang menawarkan dirinya dengan nick name ce-bookingan atau ce-bookingan 300rb. Penyebutan itu mereka sengaja dengan maksud agar chatter yang ingin membookingnya akan langsung mengklik nickname terebut.

    Sekadar informasi bahwa ‘ce’ dalam bahasa chatting yang artinya adalah cewek sementara ‘co’ artinya adalah cowok. Bagi chatter yang tertarik bisa dilanjutkan dengan obrolan sampai mendalam termasuk tarif dan kapan mereka bisa janjian.

    Jika sang ce-bu oke mereka akan memberikan nomor ponsel yang tak diberikan sama siapapun. Tetapi ada juga ce-bu yang melakukan tawar menawar tarif sembari jalan sehingga kalau tak tertarik mereka bisa diantar pulang lagi ke kosnya. Tetapi jangan kira bahwa penampilan mereka menor seperti pelacur jalanan. Mereka justru tampil sangat biasa tanpa make up yang menonjol. Menurut pengakuan mereka, ketika diajak jalan-jalan di tempat umum kehadiran mereka tak langsung dapat dikenali bahwa mereka sesungguhnya pelacur.

    Hanya saja, ce-bu di Yogya lain dengan gadis mall di Jakarta. Sejauh pengamatan kami, mereka tak terlalu banyak menuntut untuk dibelikan barang. Tetapi mereka sudah sangat puas jika diajak makan bareng dan muter-muter keliling kota. Bahkan, kalau sudah langganan ada juga yang tak menuntut bayaran.Disamping itu, rata-rata mereka justru lebih suka dijemput dengan motor. Selain tak terlalu mencolok terlihat sebagai gadis panggilan, bagi mereka sesungguhnya adalah melepaskan stress dan dapat berkeluh kesah dengan orang lain. Sebab, keterjerumusan mereka menjadi gadis panggilan salah satunya karena mereka tak tahu harus menumpahkan segala kekesalan yang menyesak dalam dadanya.

    Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak bermasalah. Ada yang patah hati ,ada yang kesepian karena pacarnya jauh di luar kota, tetapi ada juga yang menjadi ce-bu sebagai sikap protes terhadap keluarga, ketika mengetahui bahwa orang tua mereka selingkuh dengan orang yang sebaya dengan dirinya.Sinta (24) -bukan nama sebenarnya, adalah salah satu dari puluhan mahasiswa Yogya yang sengaja menceburkan diri dalam dunia hitam. Karena penampilannya yang sederhana sekilas gadis berdarah Sulawesi-Betawi ini sama sekali tak mengesankan bahwa dia seorang ce-bu.

    Selain wajahnya biasa-biasa saja , dandanan yang dikenakan setiap berkencan selalu sopan. Sinta dan juga sejumlah ce-bu yang ditemui Bernas ternyata tak suka merokok layaknya pelacur di sinetron.Ketika tampil sehari-hari, mereka juga tak mengesankan bahwa mereka adalah gadis panggilan. Sebab, di kos atau di kampus mereka kelihatan sebagai gadis biasa yang tanpa masalah. Mereka tampaknya juga tak ingin diketahui bahwa mereka adalah ‘ayam’ dan hanya orang-orang tertentu dan penggemar chatting saja yang tahu bahwa mereka adalah ‘ayam’. Sebab, ketika chatting mereka akan terbuka tentang apa yang dapat mereka perbuat dan upah apa yang mereka minta.Biasanya mereka langsung akan memberikan nomor ponsel terhadap orang-orang yang kelihatannya serius untuk mengencaninya. Sinta, misalnya, selalu standby di pesawat 081XXXX49.

    Jika di-call, maka Sinta akan langsung siap melayani dan memuaskan hasrat lelaki hidung belang. Dia adalah mahasiswi semester akhir jurusan hukum sebuah PTS yang sangat tahu apa yang harus diperbuat untuk menyenangkan pria yang mengajaknya. Tingginya sekitar 170 dengan bobot 59 kg dan ukuran bra 36. Tapi jangan kecewa karena wajahnya hanya biasa-biasa saja. Jika anda tak suka masih ada Indah yang selalu on di pesawat 0818XXXX06 atau Lisa yang siap dipanggil di nomor 0818XXXX34.Menurut pengakuannya, sudah lebih dari dua tahun Sinta menekuni profesinya sebagai ce-bu. Prinsip yang dianutnya adalah tidak merugikan orang lain. Karena orang yang membookingnya tak mesti akan memintanya untuk melakukan seks. Maka dia sama sekali tak menawarkan diri kepada orang yang membookingnya. Jika kemudian orang yang mendahului dengan memintanya, maka Sinta akan melayaninya. Tarifnya? Murah.

    Sinta tak meminta uang tetapi hanya meminta pulsa telpon. “Gue nggak minta duit, isi aja pulsa HP gue! Berani nggak? Kalau berani, gue akan puasin lu. Apa aja gue bisa!” ujar Sinta dengan logat Jakarta yang sangat kental. Rata-rata para ce-bu di Kota Yogyakarta berasal dari luar kota yang sengaja datang ke Yogya untuk tujuan studi. Karena itu sesungguhnya mereka bukan golongan orang yang kekurangan duit .(****)

    Source: http://harubiru.blogspot.com/

    Iklan
     
  • sundalpapua 12:55 pm on October 25, 2010 Permalink | Balas
    Tags: , fenomena sosial   

    Gereja di Papua Nugini mulai kosong Ditinggalkan 

    terus ini sebagian isinya :
    23:3 Mereka bersundal di Mesir, mereka bersundal pada masa mudanya; di sana susunya dijamah-jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang.

    23:17 Maka orang Babel datang kepadanya menikmati tempat tidur percintaan dan menajiskan dia dengan persundalan mereka; Sesudah ia menjadi najis oleh mereka, ia meronta dari mereka.

    23:20 IA BERAHI KEPADA KAWAN-KAWANNYA BERSUNDAL, YANG AURATNYA SEPERTI AURAT KELEDAI DAN ZAKARNYA SEPERTI ZAKAR KUDA.

    23:21 ENGKAU MENGINGINKAN KEMESUMAN MASA MUDAMU, WAKTU ORANG MESIR MEMEGANG-MEGANG DADAMU DAN MENJAMAH-JAMAH SUSU KEGADISANMU.” (Yehezkiel 23:1-21)

    Gw sih gak heran. Udah ditulis di Alkitab, bahwa menjelang jaman akhir orang2 sudah semakin sibuk dgn urusan mrk masing2, mrk akan mencari ‘Tuhan2’ yg disesuaikan dgn keinginan mereka, yg bisa nyenangin mereka dan udah gak peduli dgn yg bener2 Tuhan.

    So, semua ini pasti akan terjadi….. sebaiknya persiapkanlah diri anda masing2 sebaik2nya agar kelak bisa mendapat tempat di surga…. GBU !

     
  • sundalpapua 5:06 am on November 21, 2005 Permalink | Balas
    Tags: , fenomena sosial,   

    Indonesiana – Beli Kondom di ATM 

    Anda ingin membeli kondom? Di kota-kota besar dan kecil, barang itu ada di hampir semua apotek. Tapi, Anda mungkin risi membelinya, apalagi kalau pelayannya wanita. Lebih risi lagi kalau mau pilih-pilih.

    Di Papua, daerah yang selama ini selalu dikategorikan tertinggal dibandingkan dengan daerah lain, penjualan kondom sudah dilakukan melalui sebuah mesin yang mirip anjungan tunai mandiri (ATM). Dengan hanya memasukkan tiga koin Rp 500 dan memencet salah satu tombol, satu kotak kondom merek Artika pun akan keluar. Aroma kondom juga beragam, ada vanilla, strawberry, cokelat, jeruk, dan durian.

    Memang, “ATM kondom” belum begitu banyak. Salah satu yang sudah beroperasi sejak akhir April lalu adalah di lokalisasi Tanjung Elmo, Sentani. Menurut pejabat Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hardiyanto, pemasangan ATM kondom seperti itu memang diprioritaskan di lokalisasi pelacuran karena menjadi tempat suburnya penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.

    Proyek besar ini adalah program kerja sama BKKBN Pusat, BKKBN Papua, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, untuk menekan tingginya jumlah kasus HIV/AIDS di Papua. Menurut Ketua Kelompok Kerja Komunikasi Informasi dan Edukasi Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Provinsi Papua, Agus Fauzi, berdasarkan data sampai 31 Maret 2005, kasus HIV/AIDS di daerah ini sebanyak 1.874. Itu yang dapat dideteksi. “Kemungkinan yang tak terdeteksi jauh lebih besar,” katanya.

    Rencananya, akan ada tujuh ATM kondom yang tersebar di seluruh Papua. Dua di Kabupaten Mimika, dan satu masing-masing di Kabupaten Jayapura, Sorong, Biak Numfor, Merauke, dan Manokwari. “Ke depan, kita berharap ATM kondom serupa juga akan dipasang di tempat-tempat umum atau perkantoran,” kata Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat, Siswanto A. Wilopo. Tidak disebutkan apakah di kantor Dharma Wanita nantinya juga tersedia ATM kondom ini.

    Adakah yang mengajukan protes terhadap modernisasi di dunia esek-esek ini? Tak seorang pun. Malah yang bangga banyak. Misalnya Rico, seorang sopir angkutan umum yang jadi pelanggan di lokalisasi Tanjung Elmo Sentani. Selama ini dia jarang “main” menggunakan kondom. Alasannya, kios yang menjual kondom jauh. Lagi pula, kata Rico, dia malu membeli kondom di tempat-tempat umum, nanti dikira suka main perempuan—padahal memang ya.

    Para pekerja seks komersial—di masa lalu, ketika moral bangsa agak baik, mereka ini disebut sundal atau lonte untuk memberi kesan negatif—tak kalah girangnya. Kini mereka tak perlu repot mendapatkan kondom untuk pelanggannya. Soal merek, apalagi rasanya, juga tak dipermasalahkan. Kapan ATM kondom ini ada di mal-mal di Jakarta?

    Abdul Manan, Lita Oetomo

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal