Tagged: penjaja seks Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • sundalpapua 4:39 pm on February 6, 2013 Permalink | Balas
    Tags: manado, , penjaja seks,   

    Pengakuan Ayam Abu-abu Sulut, Sering Dihubungi Pejabat Daerah 

    Fenomena Ayam Putih Abu-abu di Sulawesi Utara (Sulut)dari hari ke hari makin menggairahkan. Keseimbangan supply dan demand membuat penyakit masyarakat ini tambah eksis. Para pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, bahkan sampai ke jajaran pejabat daerah. Investigasi wartawan Manado Post yang dilakukan Selasa (28/8) terhadap salah sorang Ayam Putih Abu-abu sedikit mengungkap cukup banyak hal. Dari modus-modus transaksi Ayam Putih Abu-abu sampai ke para relasinya.

    Melati (nama samaran), siswi kelas 2 di salah satu SMA di kawasan Teling telah duduk manis di salah satu cafe di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Boulevard. Siswi berparas cantik ini diketahui salah satu Ayam Putih Abu-abu teman sekelasnya, teman salah satu tim investigasi Manado Post. Dari temannya itu diperoleh informasi kalau Melati akan melakukan transaksi terlarang dengan pria hidup belang.

    Sore itu, sekira pukul 16.00, dengan rambut hitam indah terurai sebahu dan kulit putih bersinyah, ia duduk sendiri di sudut cafe tersebut. Sesekali ia mengambil HP BlackBerry dari dalam tas, sambil matanya jelalatan kanan kiri. Berjarak sekira 5 meter dari tempat duduknya, wangi parfum Melati sesekali tercium begitu wangi menggoda. Dengan pakaian yang modis dan agak seksi, keberadaannya pun menjadi perhatian siapapun di tempat itu.

    Sekira 15 menit kemudian, datang dua sahabatnya, gadis-gadis yang tak kalah cantik dan berpenampilan modis. Ketiganya Cipika Cipiki kegirangan saat bersua. Ternyata mereka kegirangan karena berhasil mencari alasan untuk keluar rumah. Mengelabui orang tua dengan berbagai alasan untuk mencari tamu.

    Seperti sempat terekam dari percakapan mereka. Terdengar salah satu di antaranya mengatakan, ia pamit kepada orang tua untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di rumah teman. Dari rumah berpakaian apa adanya, lalu berganti baju agak seksi dan berdandan sedikit menor di rumah teman.

    Saat ketiganya sedang larut dalam kegirangan, BlackBerry Melati berdering. Ia lalu mengangkatnya sambil menunjukkan layar Ponsel kepada ke dua rekannya. Melati mengangkatnya dengan mode speaker yang diperkecil. Ketiganya saling mendekatkan kuping, sama-sama mendengarkan percakapan Melati dengan si penelepon.

    Setelah menutup telepon, ketiganya tampak siaga, agak gelisah seperti menunggu seseorang. Sampai di cafe tersebut masuk tiga orang pria berusia sekira 40-50-an. Kedua pria berpenampilan mentereng itu duduk di meja yang bersebelahan dengan para ABG tadi.

    Awalnya, antara ke dua meja bersebelahan itu tampak tak saling kenal.

    Namun, lama kelamaan tampak terjadi percakapan dengan bahasa sandi antara Melati dengan salah seorang pria. Melati lebih dulu memberikan sinyal dengan menatap ke arah dua rekannya lalu melihat ke arah si pria. Di samping meja, si pria lalu mengangkat jempol kanan memberikan tanda OK terhadap penampilan para gadis.

    Para pria itu tak duduk lama. Hanya memesan minum lalu beranjak sekira 15 menit dari cafe tersebut. Namun, saat akan keluar dan melewati para gadis, sebuah tisu tampak diselipkan salah seorang pria ke meja Melati Cs. Melati lalu membuka tisu itu. Ternyata di dalamnya beberapa lembar uang untuk membayar makan dan minum di cafe. Rekan Melati lalu mengambil tisu itu dan tampak menyalin sebuah nomor Ponsel. Rupanya, si pria meninggalkan memo dan nomor Ponsel di tisu tersebut.

    Tak lama berselang, Melati Cs juga beranjak. Namun, ketiganya berjalan terpisah berjarak sekira 5 meter satu sama lain. Rupanya memo itu berisi pesan yang mengatur skenario terlarang mereka. Biasanya, berisi nomor Ponsel atau nama hotel serta nomor kamar yang sudah booking.

    Mereka menuju ke tempat parkir pusat perbelanjaan tersebut. Dari kejauhan terlihat ketiganya di jemput tiga mobil berbeda. Tim investigasi lalu bergegas dan berhasil membuntuti dua mobil. Satunya lagi telah lebih dulu menghilang. Tim berpencar, yang satu mengikuti Mobil Toyota Fortuner ke arah Pusat Kota dan mengarah ke Jalan Jenderal Sudirman. Sampai tiba di depan sebuah hotel berbintang di ruas Jalan tersebut, mobil berwarna putih itu banting setir dan masuk ke basement.

    Si gadis lalu turun duluan dan langsung masuk lift. Lalu disusul si pria yang tampak tegang dan berjalan penuh rasa khawatir. Keduanya berdiri di depan lift pura-pura tak saling kenal. Sampai lift lalu terbuka dan keduanya masuk menuju kamar hotel.

    Dari hasil investigasi tim terhadap para pria hidung belang, diketahui hotel itu memang menjadi tempat favorit. Dari basement yang tersembunyi, tamu langsung ke kamar tanpa terlihat banyak orang di lobi hotel.

    Sementara, dari mobil satu lagi yang berhasil dibuntuti, tim mendapatinya menuju sebuah kawasan perumahan elit di Manado. Rumah yang tampak sepi dan tak berpenghuni. Si pria sendiri yang membuka gembok pintu saat tiba di depan ruman. Rupanya, itu rumah sewaan atau memang dibeli dan dipersiapkan untuk bisa enjoy dengan para wanitanya.

    Kembali ke hotel, sekira pukul 20.00, si gadis tampak keluar di basement dari hotel tanpa si pria. Ia dijemput sebuah mobil Honda Jazz yang tampak masih baru. Di dalamnya ternyata si
    Melati yang membawa mobilnya. Dari sana, mereka menuju ke pusat perbelanjaan tadi.

    Masuk ke parkiran pusat perbelanjaan, Melati dan temannya tak turun dari mobil. Mereka menunggu di dalam sampai mobil lain yang membawa teman mereka ke perumahan elit tadi datang. Mobil si pria diparkir tepat di samping Honda Jazz Melati. Rekan Melati lalu turun dari mobil dan berpindah mobil. Tak lama berselang, ke dua mobil itu keluar dan berpisah. Seperti itulah sebagian modus transaksi terlarang Ayam Putih Abu-abu.

    Menariknya, dari gambar yang berhasil diambil diam-diam dari ketiga pria tadi, belakangan diketahui mereka adalah pejabat di salah satu kabupaten/kota di Sulut. Itu mungkin sudah biasa. Karena dari sejumlah Ayam Putih Abu-abu yang berasil dimintai keterangan, mereka mengaku memang sering melayani pejabat. Bahkan sampai ke bupati/wali kota.

    “Tapi kepala daerah di luar Manado. Jadi kalau tugas luar ke Manado pejabat meminta kami menemani istirahat sejenak mereka di hotel,” katanya. Ia menyebutkan, para pejabat itu terdiri dari para petinggi eksekutif sampai ke legislatif. “Kontraktor, pengusaha tua dan muda semua kami layani juga. Sering pejabat datang bersama mereka,” aku salah satu siswi SMA di Manado. Bahkan, ada yang sudah menjadi langganan tetap dan selalu mengontak Ayam Putih Abu-abu tiap kali ke Manado.

    Dari sekali melayani kelas pejabat tersebut, mereka bisa mendapatkan bayaran mulai dari Rp3 juta sampai Rp15 juta. Tergantung nego dan penampilan si gadis. Kalau di mata pria hidung belang sangat cantik pastinya bayarannya lebih mahal. Tinggi rendahnya bayaran juga tergantung berapa kali main atau lamanya waktu ditemani. Semalam suntuk bisa sampai Rp15 juta.

    Sangat disayangkan bila memang pernyataannya soal para pejabat itu benar. Harusnya pejabat yang adalah pengayom masyarakat memberikan teladan yang baik. Bukannya merusak para siswi Ayam Putih abu-abu yang juga genarasi muda harapan bangsa.

    Hal itu dibenarkan Wakil Ketua Dewan Kota (Dekot) Bitung Ir Maurits Mantiri. Menurutnya, eksistensi Ayam Putih Abu-abu tak lain karena para pejabat ikut mengkonsumsinya. Karena ketagihan mendapatkan uang banyak, para siswi makin terjerumus ke lembah dosa. “Dan penyakit ini menular ke teman-teman sekolah para siswi itu,” sesal Mantiri kepada wartawan Manado Post, Selasa (28/8) kemarin.

    Terkait penyakit sosial itu, psikolog…. mengatakan, masalah prostitusi remaja ini sangat kompleks dan tidak sederhana. Dijelaskannya, secara umum, anak remaja ada dalam fase mencari identitas yang sangat krusial sebagai landasan menuju masa dewasa. “Pada fase ini remaja akan menentukan nilai atau value yg dianut baik moral, religiusitas dan spiritualitas,” katanya.

    Ia mengatakan, penting dalam masa itu menanamkan sistem atau moral yang baik dan benar. Ditanamkan orang tua dan sistem pendidikan sejak dini di sekolah. “Bahwa nilai-nilai kesucian, kecantikan pribadi, kejujuran, kerja keras untuk sukses lebih tinggi dan luhur nilainya dari kekayaan, kecantikan fisik atau lahiriah serta kenikmatan sesaat,” tambahnya.(***)

    SUMBER: http://harubiru.blogspot.com/search?updated-max=2013-02-08T20:30:00%2B07:00&max-results=5

    Iklan
     
  • sundalpapua 4:37 pm on February 6, 2013 Permalink | Balas
    Tags: ABG, , penjaja seks,   

    Prostitusi Siswi SMA Memprihatinkan 

    “Aku paling suka kalau ditugaskan ke Manado. Wanitanya cantik-cantik, Bibir Manado is the best.

    Apalagi ayam Putih Abu-abu,” Seperti itu canda seorang pejabat di salah satu instansi di Jakarta kepada wartawan Manado Post, beberapa waktu lalu. Diakui atau tidak, kesan negatif terhadap wewene Manado telah terdoktrin di kepala para lelaki hidung belang di berbagai daerah di Indonesia. Fenomena yang sebenarnya terjadi juga di berbagai daerah lain. Namun, Manado lebih terkenal karena wanita-wanitanya yang identik dengan kulit putih dan wajah cantik.

    Selain prostitusi jalanan dan kelab malam, beberapa tahun terakhir fenomena jual beli ‘daging mentah’ di Manado dan Sulawesi Utara (Sulut) diramaikan istilah ‘Ayam Kampus’. Market para mahasiswi cantik menggeser eksistensi wanita penghibur di kelab malam. Bahkan, tempat-tempat hiburan banyak memakai ladies Ayam Kampus. Namun, eksistensi Ayam Kampus yang berusia antara 18-22 tahun belakangan mulai tergusur. Para anak baru gede (ABG) SMA berseragam Putih Abu-abu makin beringas dan terang-terangan melakoni sisi hitam kehidupannya. Eksistensi Ayam Abu-abu juga mendapat respon positif di pasaran para lelaki hidung belang. Mulai dari eksekutif muda sampai kakek-kakek berduit jadi target market Ayam Kampus. Termasuk juga para tamu dari luar daerah yang butuh teman tidur saat tugas ke Manado.

    Hasil investigasi tim Xpresi Manado Post berhasil meminta keterangan dari 3 siswi Ayam Abu-abu dari salah satu sekolah ternama di Manado. Trio ini punya semacam koordinator yang bertugas mengatur schedule making love (ML). Singkatnya, sang koordinator itu adalah germo bila laki-laki atau mucikari kalau perempuan atau pria yang setengah perempuan alias banci. Mulai dari penjemputan sampai tempat kejadian pemain (TKP) diatur sang koordinator.

    Pengakuan salah satu Ayam Putih Abu-abu, sebut saja Teratai, ia sudah terbiasa dengan permainan kotor seperti ini. “Pelanggan kami mulai dari pejabat sampai sopir mikro juga ada. Asalkan harganya cocok,” kata gadis cantik berambut panjang dan kulit putih itu sambil meminta namanya tak dikorankan. Ia pun bercerita tentang awal dirinya dan rekan-rekannya Ayam Putih Abu-abu terjerembab ke dunia hitam. “Kalau aku pertama mengenal sex dengan pacar saya. Kami satu sekolah dan sudah pacaran sejak kelas 1,” ujar siswi kelas 3 itu.

    Setelah berkali-kali melakukan hubungan laik sensor dengan pacarnya, ia akhirnya menjadi terbiasa. Dan saat putus dengan sang pacar dengan mudahnya ia terjerumus ke dunia prostitusi. Karena bergaul dengan teman-teman yang lebih dulu menjadi pemain, ia akhirnya ikut-ikutan. Gadis yang berasal dari keluarga yang sebenarnya tergolong mampu itu, terbawa arus pergaulan masa kini. “Dapat uangnya cepat, tak perlu merayu orang tua untuk dapat uang. Cukup ML dapat banyak uang. Sehari bisa beberapa kali ML sudah jutaan,” tambahnya, dibenarkan kedua rekannya. Sekali ML, mereka mendapatkan bayaran mulai dari Rp500 ribu sampai Rp1 juta untuk short time.

    Ayam Putih Abu-abu memang jarang bisa melayani full time atau semalam suntuk. Paling banyak mereka melayani tamu di saat jam sekolah. Tentu saja harus bolos sekolah. Keluar rumah sesuai jam berangkat sekolah, tapi tak langsung bertemu target. Biasanya berkumpul dulu di hotel atau rumah teman sambil menunggu panggilan atau jam janjian. Tapi ada juga yang masuk sekolah dan bolos di jam tertentu saat tiba waktu ketemu target. Bagi yang melayani tamu di luar jam sekolah, Ayam Putih Abu-abu harus mencari berbagai alasan untuk mendapatkan izin orang tua. Les tambahan dan kerjakan pekerjaan rumah (PR) di rumah teman adalah beberapa alasannya. “Tapi ada juga sih beberapa di antara kita yang melayani di jam malam. Yah, biasanya lompat jendela kamar supaya tak ketahuan orang tua. Cuma pulangnya pun tak bisa pagi, paling lama jam 4 atau 5 pagi,” tambahnya sambil tertawa lepas.

    Dengan status sebagai Ayam Putih Abu-abu, para gadis cantik itu bisa mendapatkan Rp2 juta sampai Rp3 juta per hari. Menariknya, bagi yang masih perawan banderolnya dipatok di kisaran Rp5 juta sampai Rp15 juta. Biasanya tergantung nego. Kalau kriterianya mendapatkan nilai tinggi di mata para pria hidung belang, pasti harganya tinggi. Bahkan bisa lebih dari Rp15 juta. Bayaran tinggi juga biasa didapatkan saat nasib mujur melayani tamu pejabat atau pengusaha sukses. Saat mendapat ‘relasi’ pejabat atau pengusaha sukses, keuntungan bisa berlipat. Sering tanpa ML mereka mendapatkan transferan dana dari pejabat tau pengusaha itu. Tapi, mesti siap sewaktu-waktu saat dibutuhkan. “Tapi untung. Saya punya relasi opa-opa pengusaha kaya. Kalau ketemu saja jarang ML karena sudah tua. Tapi selalu dapat duit,” katanya. Setelah main, sekali melayani tamu, mereka harus menyetor minimal 10 persen dari bayaran ke koordinatornya. “Kalau Rp500 ribu paling kurang kasihnya Rp50 ribu.”

    Sementara, dari investigasi terhadap beberapa siswi lain diketahui seperti apa modus-modus pertemuan saat akan ML. Mawar (nama samaran, red) mengatakan, untuk bertemu target ia biasanya langsung janjian di hotel. Sang pembeli sudah memesan kamar dan menunggu di hotel. “Kami takut datang sendiri dan mengajak beberapa teman saat akan ML di hotel. Jadi target harus memesan dua kamar. Satu untuk main yang lainnya buat teman-teman menunggu,” terang siswi kelas 1 SMA itu. Modus lain, siswi berseragam janjian menunggu di suatu tempat lalu dijemput pemesan. Itu juga menjadi ajang pameran di etalase, beberapa siswi berdiri bersamaan dan saat menjemput pemesan menentukan siapa yang akan melayaninya. “Kalau ada yang sudah senang dengan salah satu di antara kita sering mereka jadi pelanggan tetap dalam waktu cukup lama,” ungkapnya.

    Para germo dan mucikari juga sering menjajakan dagangannya di pusat-pusat perbelanjaan. Saat ada yang memesan, si cewek tinggal disuruh melintas di depan restoran tempat si pemesan menunggu. Kalau OK, langsung janjian menuju hotel. Hasil dari menjual diri itu dipakai untuk hura-hura. Dugem di kelab malam, beli HP baru, makan sampai traktir-traktir teman di pusat-pusat perbelanjaan. Saking laris manisnya Ayam Putih Abu-abu saat ini, banyak juga mahasiswa atau Ayam Kampus yang berpura-pura menjadi siswi SMA. Cukup bermodal seragam SMA saat bertemu target. Namun, di balik itu sekolah para Ayam Putih Abu-abu ini kacau. Beberapa ada yang hamil dan harus berhenti sekolah lalu terpaksa menikah karena kebobolan.

    Padahal agar tak hamil ada yang sudah ber-KB. Itu terpaksa dilakukan karena banyak pelanggan yang tak suka pakai kondom. Yang seperti itu tinggal dibicarakan dan pastinya berpengaruh pada harganya. Setelah hamil. Menikahnya dengan pacar mereka yang tak tahu dengan status sampingan si gadis selama ini. Dari sebagian besar sumber Ayam Putih Abu-abu, sebagian besar di antaranya terjerumus karena broken home. Misalnya, keluarga yang tak harmonis atau mendapat didikan yang salah karena ada anggota keluarga duluan menjadi wanita panggilan. Menariknya, banyak juga di antara mereka yang berasal dari orang berduit.

    Kenapa sampai terjerumus mereka mengaku ketagihan berhubungan badan. Selain itu supaya bisa dianggap gaul dan tak dikucilkan teman saat tak mau ikut Dugem dan bolos. Dan hal itulah yang biasa menjadi awal lahirnya Ayam Abu-abu baru.(***)

    Perlu Pengawasan Bersama

    Banyak hal yang menyebabkan seks bebas di kalangan pelajar, termasuk siswi SMA. Namun satu yang pasti, keluarga atau orang tua dianggap gagal membimbing anaknya. Sekolah juga dinilai tak mampu menanamkan nilai-nilai moral terhadap siswanya. Kadis Diknas Sulut Drs Star Wowor MSi angkat bicara mengenai hal ini. Menurutnya ada beberapa poin yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh semua stakeholder pendidikan. “Sebisa mungkin pergerakan siswi diperkecil dengan melakukan Sidak. Kita harus berikan perhatian khusus terhadap hal ini,” kata Wowor kepada wartawan Manado Post, Senin (27/8) kemarin.

    Ia menambahkan, guru harus melakukan kajian terhadap dugaan gejala anak-anak saat akan terjerumus. Biasanya terdeteksi dari gaya hidup dan penampilan glamour di sekolah. “Ruang gerak mereka dibatasi, guru juga berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk pengawasan,” tuturnya. Ia meminta para guru untuk mengambil tindakan saat mengetahui siswanya menempuh jalan yang salah. Menjual diri demi mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan hura-hura. “Kalau dibiarkan akan berpengaruh pada siswa lain.” Ia mengatakan, para siswa saat ini sedang mencari jati diri sehingga hal menarik dan dianggap ‘gaul’ akan diikuti. “Jika terindikasi ada siswi yang seperti itu lebih baik mengundurkan diri dari sekolah secepatnya. Kalau tidak diberhentikan saja,” tegasnya. Kata Wowor, peran orang tua wajib berperan serta. Tak hanya sekadar mengawasi aktivitas anak, orangtua harus mampu menjaga dan menggiring anak pada aktivitas asmara yang ‘wajar’.

    Sebuah ‘Hotline’ Pendidikan Surabaya menyatakan, 45 persen dari siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) memiliki pandangan apabila seks bebas dengan orang yang mereka sayangi (pacar) adalah sah-sah saja. Dan setelah melakukan hubungan suami istri dengan pacar siswi bisa dengan mudah terjerumus. Wowor mengatakan, keluarga juga mesti mampu menciptakan ekosistem yang nyaman bagi anak. Memperhatikan perkembangan dan aktivitas anak. Seperti membatasi aktivitas yang berkaitan dengan tontonan, pergaulan dan jejaring sosial. Menurut survei ‘Hotline’ Pendidikan Surabaya dari Sepetember hingga Desember 2011, televisi memiliki pengaruh 52 persen, pengaruh teman sebesar 42 persen, dan jejaring sosial sebanyak 27 persen. Sementara itu, pengamat pendidikan Sulut Dr Max Ruindungan MPd angkat bicara mengenai hal ini. Ia menilai, keadaan anak muda saat ini sedang mengalami pergeseran orientasi nilai hidup dari ideologis spiritual ke materialisme atau pragmatisme. Menurutnya, perlu dilakukan revolusi moral untuk mengendalikan sikap dan karakter anak muda yang semakin materialistik dan pragmatis. “Diperlukan pendekatan baru di dunia pendidikan,” tambahnya.(***)

     
  • sundalpapua 11:44 am on February 19, 2009 Permalink | Balas
    Tags: , penjaja seks, ,   

    Penjual Pinang di Jalan-Jalan Sepanjang Sentani, Abepura, Jayapura adalah Penjajah Seks 

    Pada suatu malam, saya bersama dua teman saya yang berasal dari Makasar sedang berjalan menuju ke Jayapura. Kami baru pulang dari ambil kayu balok di Genyem.

    Saat kami jalan, teman yang adalah orang Makasar yang memang lahir dan besar di Timika itu bercakap-cakap dengan saya. Saya sendiri tidak tahu betul kondisi di Jayapura, jadi saya minta dia antar saya langsung dari  tempat penjualan kayu menuju ke salah satu hotel di Jayapura.

    Mereka berdua tanya, “Sobat, nanti malam ko tidur sendiri, perlu teman ka?” Saya jawab, “Kalian bisa tidur sama-sama to? Atau maksudnya teman perempuan?” Mereka jawab, “Sudah tahu baru tanya lagi.” Saya bilang mereka, “Kalau tau carikan to?”

    Mereka dua langsung, masih di Sentani juga, singgal di salah satu tempat penjualan pinang di Jalan Kemiri, Sentani, Jayapura. Saya kaget karena saya pikir mereka berdua mau beli pinang. Atau mereka mau belikan pinang buat saya? Saya bilang, “Saya tidak makan pinang, sobat!” Mereka dua balas, “Bukan ini pinang kaki dua yang kami mau beli, bukan pinang batang satu. Dua-dua makan mentah, dua-dua badarah, tapi yang satunya berkaki satu dan satunya berkaki dua. Yang dijual di sini kaki satu dan kaki dua juga.”

    Mendengar itu, saya menjadi takut dan gementar, jantung berdebar. Mereka berhenti begitu saja, lalu mereka memberikan kode, “Naik ke mobil.” Mereka lihat kami bertiga, jadi, cewek penjual pinang itu bilang, “Eh, saya panggil teman lagi e?” Lalu teman Makasar ini bilang, “Tidak usah, ko saja, macam baru kenal saaja. Nanti ko pulang besok, kami antar, cepat sudah.”

    Begitu dia naik, ternyata dia masih bisa mengenal saya, dia bilang, “Eh, kakak dari Timika ka?” Saya jawab, “Ya!, tahu dari siapa atau dari mana?” Dia jawab, macam saya pernah lihat di Hotel Sheraton Timika. Ooooooooooh, rupanya cewek ini sering dibawa ke sana juga.

    Setelah melaju ke Abepura, kedua teman Makassar ini tiba lagi di depan Mall Besar di Abepura, saya lupa namanya, di Kali Acai itu. Di depan itu, persis depan Bank BNI pu ATM itu, ada penjual pinang juga. Kedua teman Makassar ini berhenti di situ. Lalu memberikan kode kepada dua orang perempuan Papua di  situ juga. Kali ini mereka bersama dua orang lelaki, dan seorang perempuan yang usianya sudah tua. Rupanya perempuan tua ini berpura-pura jadi orang tua penjualan pinang berkaki satu, padahal ia mama dari penjualan pinang berkaki dua.

    Perempuan dua itu naik lagi. Kami terus lanjut ke Jayapura, sampai ke Papua Trade Centre dan ketiga perempuan dan kedua teman Makassar itu pulang pagi juga.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal